Permintaan Kapas dari AS Diproyeksi Meningkat. Ini Penyebabnya

Cotton Council International (CCI) menargetkan terjadi peningkatan permintaan serat kapas Amerika Serikat (AS) dari industri tekstil Indonesia.
Anggara Pernando | 12 September 2018 21:26 WIB
Pekerja meyelesaikan pembuatan pakaian di pabrik garmen PT Citra Abadi Sejati, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Cotton Council International (CCI) menargetkan terjadi peningkatan permintaan serat kapas Amerika Serikat (AS) dari industri tekstil Indonesia.

Bruce Atherley, Executive Director CCI menyebutkan saat ini Indonesia menjadi satu dari 10 negara pengimpor terbesar kapas AS. Indonesia menjadi negara pengimpor kapas keempat terbesar setelah Vietnam, China dan Turkey. Selanjutnya di bawah Indonesia meliputi Pakistan, Meksiko, Bangladesh, India, Thailand dan Korea.

"10 negara importir kapas terbesar ini mencerminkan 90% ekspor kapas AS," kata Bruce di Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Dia menyatakan para pelaku industri dapat menjadikan tekstil berbahan kapas sebagai andalan bisnis ke depan. Peluang ini dikarenakan meski saat ini terjadi turbulensi ekonomi, ekonomi dunia diyakini tetap tumbuh.

Saat yang sama, kelas menengah baru terus hadir. Bahkan dalam 12 tahun ke depan akan hadir 2 miliar kelas menengah baru. Dari jumlah ini 87% akan berada di Asia.

Isu keberlanjutan juga akan menjadi perhatian ke depannya. Produsen tekstil yang menggunakan serat buatan akan disibukan dengan isu lingkungan mikroplastik. Serat yang lepas dari pakaian ketika dicuci.

"Pertumbuhan ekonomi dunia dan tumbuhnya kelas menengah baru secara keseluruhan merupakan target utama produk tekstil berbahan katun," katanya.


Ted Schneider, President of CCI menuturkan saat ini isu keberlanjutan dan lingkungan bukan hanya sebatas tanggung jawab sosial perusahaan. Konsumen secara sadar juga memfokuskan perhatian pada isu ini.

"Untuk itu Cotton USA berkomitmen untuk mendukung hadirnya sustainability di skema produksi kapas AS," katanya.

CCI Sendiri menargetkan industri tekstil Indonesia dapat menyerap produk kapas mereka hingga dua kali lipat dalam beberapa tahun mendatang. Meski begitu tidak dijelaskan dengan lengkap tenggat waktu target ini direalisasikan.

Sebelumnya pada Juli 2018 lalu, pengusaha Indonesia yang berkunjung ke AS bersama Kementerian Perdagangan menyatakan akan meningkatkan impor kapas untuk kepentingan industri. Komitmen ini ditunjukan dengan ditandatanganinya kesepahaman antara Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dengan beberapa pemasok kapas besar seperti Louis Dreyfus, Cargill dan Toyo Cotton.

Kala itu, Ade Sudrajat, Ketua API menyebutkan penggunakan kapas Amerika lebih banyak akan membuat TPT Indonesia dapat mengekspor lebih banyak ke AS.

"Pemerintah Indonesia telah menyediakan fasilitas PLB yang akan memangkas persoalan keterlambatan kapas dari AS. Untuk impor biasanya memerlukan waktu satu bulan hinggga dua bulan untuk tiba di Indonesia," katanya.


Produk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang masuk ke dalam PLB semakin meningkat dari tahun ke tahun. Impor TPT pada 2016 mencapai US$8,16 miliar, jumlah ini kemudian naik 7,9% menjadi US$8,8 miliar pada tahun lalu.

Tag : tekstil
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top