Tak Giat Bangun Infrastruktur, Indonesia Bisa Makin Tertinggal

Kalangan akademisi menilai pembangunan infrastruktur yang masif sejak 2015 mulai memangkas ketertinggalan Indonesia dari negara lain.
Rivki Maulana | 13 September 2018 22:26 WIB
Kendaraan melintas di ruas jalan tol Depok-Antasari (Desari) di Jakarta pada Rabu (5/9/2018). Jalan tol merupakan salah satu jenis infrastruktur yang pembangunannya digenjot. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan akademisi menilai pembangunan infrastruktur yang masif sejak 2015 mulai memangkas ketertinggalan Indonesia dari negara lain.

Kepala Kajian Makro Lembaga Pengkajian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Febrio N. Kacaribu mengatakan negara-negara di Asia Tenggara sudah lebih dulu membangun infrastruktur dasar sehingga biaya logistik bisa diredam.

Di samping itu, beberapa negara seperti Vietnam juga tengah gencar membangun infrastruktur sebagai tulang punggung perekonomian negaranya.

Febrio menyebutkan hasil pembangunan infrastruktur memang tidak bisa dinikmati dalam waktu yang singkat. Dia mengutarakan infrastruktur merupakan faktor kunci untuk meningkatkan daya saing sektor-sektor yang menjadi motor perekonomian.

"Ada yang bilang [dengan pembangunan infrastruktur] kok ekonomi tumbuh hanya 5,1%. Tunggu dulu, kalau tidak dibangun mungkin bisa lebih jeblok," ujarnya di Jakarta pada Kamis (13/9/2018).

Menurut Febrio, indikator keberhasilan pembangunan infrastruktur tercermin dari kinerja logistik Indonesia. Berdasarkan laporan Logistic Performance Index, peringkat Indonesia naik dari posisi 63 di 2016 menjadi 46 di 2018. Indeks tersebut salah satunya menghitung aspek infrastruktur dari total enam komponen yang dihitung setiap 2 tahun.

Dia menerangkan Indonesia perlu mewaspadai Vietnam yang peringkat kinerja logistiknya menyalip. Di 2016, Vietnam berada di posisi 64 dan selang 2 tahun kemudian sudah bertengger di posisi 39.

Perbaikan kinerja tersebut turut membantu Vietnam dalam menarik investasi asing, terutama dari sektor manufaktur.

Sementara itu, kinerja manufaktur Indonesia melempem karena sulit menyaingi produk-produk yang dihasilkan kompetitor.

Walhasil, kontribusi sektor manufaktur juga terus melorot. Per kuartal II/2018, sumbangsih sektor manufaktur mencapao 20,26%, turun dari posisi 2002 yang masih mencapai 27,9%.

Menurut Febrio, sektor manufaktur harus turut berbenah, terlebih infrastruktur juga sedang dibangun. Dia menyebutkan Indonesia masih berorientasi pada industri barang jadi yang di dunia sudah mulai ditinggalkan.

Tren manufaktur global saat ini, negara-negara industri berlomba membangun komponen atau global value chain dengan karakteristik nilai tambah tinggi. "Sekarang pemerintah merumuskan Revolusi Industri 4.0 dan kita perlu lihat realisasinya dalam 2 tahun ke depan."

Tag : infrastruktur
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top