Revolusi Industri 4.0, ALFI: Hati-hati soal Keamanan Big Data

Aktivitas transportasi dan logistik di Indonesia dituntut untuk menyesuaikan zaman seiring perkembangan teknologi yang serba cepat dan canggih.
Ilham Budhiman | 13 September 2018 10:33 WIB
Ilustrasi - Reuters/Wolfgang Rattay

Bisnis.com, JAKARTA - Aktivitas transportasi dan logistik di Indonesia dituntut untuk menyesuaikan zaman seiring perkembangan teknologi yang serba cepat dan canggih.

Hal ini juga sejalan dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang  semua rata-rata aktivitas transportasi dan logistik sudah mulai beralih ke sistem otomatisasi, teknologi artificial intelligence (AI), dan Internet of Things (IoT).

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan secara bertahap mata rantai pasokam (supply chain) dan logistik di Indonesia sudah akan bergerak pada era Revolusi Industri 4.0.

Namun, dia menyatakan harus ada kehati-kehatian dalam menyambut era ini terutama yang berkaitan dengan big data.

"Tetapi kita sebagai negara harus berhati-hati juga mengizinkan pihak luar untuk masuk terutama yang berkaitan dengan big data," katanya, Rabu (12/9/2018).

Menurutnya, keamanan big data dinilai sangat penting sehingga pemerintah harus mempunyai rencana untuk mengantisipasi hal ini.

"Karena 4.0 ini dapat bergerak masuk terhadap semua pergerakan barang termasuk misalnya data mengenai pertanian, misalnya, pangan dan lain-lain," ujarnya.

Di sisi lain, Yukki menilai kemudahan dalam proses dokumen maupun di pergudangan akan paling banyak terjadi di era digital. Selain itu, dengan adanya era baru ini akan merubah wajah indonesia di bidang logistik dalam beberapa tahun ke depan.

"Dampaknya pasti akan besar," katanya.

Bahkan, dia memperkirakan ongkos logistik Tanah Air pun bisa turun hingga 20% dibandingkan dengan saat ini yang mencapai 23,5%.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Perhubungan Carmelita Hartoto mengatakan pemanfaatan teknologi berbasis digital dirasa sangat perlu guna meningkatkan kinerja transportasi dan logistik nasional di masa depan.

"Kondisi ini menuntut perubahan dari para pelaku usaha terkait dengan kegiatan transportasi logistik kita," kata Carmelita pada pembukaan pameran Indonesia Transport, Supply Chain & Logistics, Rabu (12/9/2018).

Penggunaan sistem digital mulai harus diterapkan diseluruh aktivitas mulai dari pergudangan, trucking, pelabuhan dan transportasi pelayaran. Dia juga mengatakan guna mempersiapkan strategi menghadapi berbagai perubahan pada sektor transportasi dan logistik di era revolusi industri 4.0 itu, seluruh pihak terkait baik pemerintah, praktisi, dan juga akademisi perlu merapatkan barisan.

Terlebih, dengan adanya acara ITSCL 2018 ini yang bisa dijadikan sebagai ajang pertukaran informasi dan diskusi para stakeholder terkait.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar mengatakan saat ini teknologi digital telah merubah segala sesuatunya termasuk sektor logistik. Apalagi, sektor industri juga sangat tergantung pada logistik terutama berkaitan dengan ekspor.

"Kalau kita tidak ikuti dan melakukan penyesuaian maka akan ketinggalan," ujarnya.

Haris juga mengatakan perubahan tren ini merupakan suatu kesempatan besar bagi para pelaku di sektor logistik guna mengembangkan inovasi-inovasi di rantai pasok dan terus memperdalam integrasi di rantai pasok tersebut.

"Perusahaan-perusahaan di sektor logistik pun harus terus meningkatkan kemampuan dan nilai tambah dari jasa-jasanya agar bisa tetap survive," ungkapnya.

Tag : Revolusi Industri 4.0
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top