Negara Maju Tak Rekomendasikan Penggunaan B20 di Sektor Laut?

Penggunaan biodiesel 20% atau B20 dinilai tidak direkomendasikan pada moda transportasi laut kendati perluasan penerapan B20 baik untuk PSO (public service obligation) maupun non-PSO sudah diberlakukan sejak 1 September lalu.
Ilham Budhiman | 14 September 2018 16:15 WIB
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perhubungan Carmelita Hartoto (kiri) berbincang dengan Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi, di sela-sela diskusi Jembatan Timbang dan Kebijakan Penurunan Muatan Berlebih Angkutan Barang di Jakarta, Senin (23/7/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Penggunaan biodiesel 20% atau B20 dinilai tidak direkomendasikan pada moda transportasi laut kendati perluasan penerapan B20 baik untuk PSO (public service obligation) maupun non-PSO sudah diberlakukan sejak 1 September lalu.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perhubungan Carmelita Hartoto mengaku pihaknya mendengar bahwa di negara-negara maju penggunaan B20 tidak direkomendasikan di sektor laut.

"Kalau di laut penggunaan B20 saya belum bisa melihat negara-negara mana yang sudah menjalankan dengan B20, sebab sampai saat ini yang kami dengar di negara-negara maju tidak merekomendasikan sektor maritim menggunakan B20," katanya, beberapa waktu lalu.

Carmelita menyoroti terkait kualitas dan kuantitas daripada B20 itu sendiri. Namun, yang paling utama adalah soal kepastian kualitas yang terjamin sehingga nantinya tidak ada pihak yang disalahkan.

"Kualitas daripada B20 ini seperti apa? Karena balik lagi, supplier ini bukan hanya Pertamina, tapi ada yang lain. Jadi mereka yang branding, setelah itu memberikan kepada distributor, lalu siapa yang akan bertanggung jawab kalau kualitasnya tidak sesuai?" ujarnya.

Dia khawatir dengan kualitas yang tidak terjamin maka bisa merusak mesin kapal sehingga membutuhkan biaya perawatan yang semakin membengkak.

"Karena kalau misalnya mogok di tengah laut yang berhubungan dengan keselamatan dan lain-lain, apa yang akan terjadi nantinya?" tambah Carmelita.

Di sisi lain, dia tidak bisa memastikan apakah dengan penggunaan B20 ini bisa menekan biaya lebih efisien mengingat ada perhitungan lain termasuk perawatan mesin sehingga ada beban biaya tambahan.

"soal efisiensi biaya meskipun sudah ada harga kita tidak bisa membandingkannya, karena tergantung juga kalau misalnya kita setiap beberapa minggu harus ada maintenance tinggi, ada biaya lain," ujarnya.

Selain itu, dia juga mempertanyakan hasil studi apabila B20 memang benar-benar sudah layak untuk diterapkan pada moda transportasi laut mengingat saat ini sudah banyak kapal-kapal tua di Indonesia.

"Sebenarnya silakan saja B20, tapi tolong studinya ada apabila dalam hal ini transportasi laut diharuskan memakai B20. Sebab banyak sekali kapal-kapal yang sudah tua."

Sebelumnya, Sekretaris Umum DPP INSA Budhi Halim juga menyatakan sejauh ini biodiesel belum dapat digunakan oleh armada kapal Indonesia karena kandungan asamnya yang bisa menimbulkan korosi pada mesin kapal.

“Korosinya itu yang makan [merusak] turbocharger, economizer, cerobong. Enggak sampai 2 tahun, kapal habis, hancur,” katanya. (Bisnis, 10/8/2018).

Tag : Mandatori B20
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top