Pembiayaan 4 Proyek Bandara AP II Diharapkan Tuntas pada 2019

Angkasa Pura II berharap penyelesaian pembiayaan keempat bandara yang sudah menjadi pipeline perusahaan bisa terlaksana pada 2019.
Rio Sandy Pradana | 19 September 2018 19:35 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menhub Budi Karya Sumadi (kiri) dan Direktur Utama PT. Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin meninjau pembangunan landasan pacu atau Runway 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (21/6/2018). - ANTARA/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA - PT Angkasa Pura II (Persero) berharap penyelesaian pembiayaan (financial close) keempat bandara yang sudah menjadi pipeline perusahaan bisa terlaksana pada 2019.

Direktur Utama AP II, Muhammad Awaluddin mengatakan keempat bandara tersebut adalah Bandara Fatmawati Soekarno di Bengkulu, Bandara Radin Inten II di Lampung, Bandara Hanandjoeddin di Belitung, dan Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya.

"Kami harap financial close bisa dilakukan pada 2019. Empat bandara ini bergantung pada tiga bandara yang masih dalam proses administrasi [alih kelola]," kata Awaluddin, Rabu (19/9/2018).

Dia menambahkan keempat bandara tersebut merupakan pengalihkelolaan dari Unit Pengelola Bandar Udara (UPBU) milik Kemenhub. Khusus Bandara Tjilik Riwut, kerja sama pemanfaatan (KSP) saat ini sudah berlangsung.

Akan tetapi, lanjutnya, tiga bandara sisanya sudah mendapatkan instruksi dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian BUMN untuk dipercepat pengalihkelolaannya. Diharapkan proses tersebut sudah rampung pada akhir 2018.

Awaluddin merinci dana yang dikeluarkan untuk membangun terminal baru di Bandara Tjilik Riwut mencapai Rp400-500 miliar. Pengembangan tersebut bisa meningkatkan jumlah kapasitas pergerakan penumpang menjadi 5 juta orang dari pergerakan saat ini yang hanya 1 juta orang.

Selama ini, imbuhnya, pembangunan di bandara tersebut berjalan lamban karena menggunakan dana APBN yang tidak bisa bersifat multi years. Diharapkan terminal, apron, dan fasilitas pendukung bisa dioperasikan pada 2019.

Kemudian, Bandara Hanandjoeddin akan dikembangkan dari darat. Gedung terminal saat ini hanya mampu melayani pergerakan 200.000 orang, sedangkan diperkirakan tahun ini pergerakannya menembus 1 juta orang.

Apalagi, Belitung merupakan salah satu dari 10 destinasi prioritas yang dicanangkan oleh pemerintah. Selain itu, ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) yang menyebabkan banyak investor yang berminat untuk turut mengembangkan.

Selanjutnya, Bandara Fatmawati Soekarno perlu dikembangkan sisi udaranya karena landasan pacu (runway) yang dimiliki masih pendek, yakni hanya 2.250 meter. Penambahan panjang runway perlu dilakukan.

Awaluddin berpendapat Bandara Radin Inten II merupakan yang paling diminati. Dari sisi udara dan darat sudah siap karena sebelumnya telah dibangun runway panjang, lengkap dengan penebalan (overlay), dan terminal menggunakan dana APBN.

"Pertumbuhan di Lampung sangat potensial. Tahun ini [jumlah pergerakan penumpang] bisa tembus 2 juta orang lebih, sehingga bisa profitable," ujarnya.

Tag : bandara
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top