Tarif Bongkar Muat Kargo Priok Naik 5% - 20% Mulai 1 Oktober

Tarif pelayanan bongkar muat kargo umum nonkontainer di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta naik rata-rata 5% hingga 20% mulai 1 Oktober 2018.
Akhmad Mabrori | 21 September 2018 20:59 WIB
Ketua APBMI DKI Jakarta Juswandi Kristanto (tengah) didampingi pengurus asosiasi itu saat mengumumkan kenaikan tarif bongkar muat (OPP/OPT) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada (21/9/2018). - Bisnis.com/Akhmad Mabrori

Bisnis.com, JAKARTA – Tarif pelayanan bongkar muat kargo umum nonkontainer di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta naik rata-rata 5% hingga 20% mulai 1 Oktober 2018.

Penyesuaian tarif bongkar muat atau ongkos pelabuhan pemuatan dan ongkos pelabuhan tujuan (OPP/OPT) di Priok itu merujuk pada kesepakatan asosiasi penyedia dan pengguna jasa di pelabuhan tersebut pada Agustus 2018.

Kesepakatan ditandatangani Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) DKI Jakarta, DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) DKI, DPC Indonesia National Shipowners Association (INSA) Jaya, dan disaksikan Manajemen PT.Pelindo II Tanjung Priok dan Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok.

Juswandi Kristanto, Ketua DPW APBMI DKI Jakarta, mengatakan kenaikan tarif OPP/OPT di Priok itu, selain karena tarif tersebut belum pernah mengalami penyesuaian sejak 2015, upah tenaga kerja bongkar muat (TKBM) naik rata-rata di atas 10% setiap tahunnya.

Dia mengatakan jika pada 2015 upah buruh pelabuhan atau anggota TKBM Priok hanya Rp150.571 per orang, kini Rp190.000 per orang.

"Kalau diakumulasi dalam 3 tahun terakhir, upah TKBM itu sudah naik sekitar 30%, tetapi ongkos bongkar muat belum pernah ada penyesuaian. Padahal komponen upah buruh itu merupakan item terbesar cost kegiatan bongkar muat, bahkan mencapai 45 persen," ujarnya pada Jumat (21/9/2018).

Juswandi menambahkan penyesuaian tarif OPP/OPT di Priok juga diharapkan semakin meningkatkan tingkat pelayanan dan percepatan bongkar muat kargo nonkontainer yang dilaksanakan perusahaan bongkar muat (PBM) di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan pemerintah.

Aria Senopati Lihu, Sekretaris DPW APBMI DKI Jakarta, mengemukakan kesepakatan kenaikan tarif OPP/OPT tersebut berlaku hingga 2 tahun.

"Ini didasari karena adanya penyesuaian upah buruh yang sudah empat kali naik, sedangkan OPP/OPT yang digunakan saat ini yakni yang berlaku 2013-2015. Padahal setiap tahun ada kenaikan UMR [upah minimum regional]," ucapnya.

Aria mengatakan penyesuaian tarif OPP/OPT di Pelabuhan Priok itu tidak berlaku bagi layanan kontainer domestik maupun internasional.

Berdasarkan kesepakatan penyedia dan pengguna jasa pelabuhan Priok itu, terhitung 1 Oktober 2018, tarif bongkar muat (OPP/OPT) untuk barang general cargo yang dilayani melalui gudang naik 7,4% dari sebelumnya Rp.81.075 per ton menjadi Rp.87.081 per ton.

Apabila dilayani via truck losing (TL) naik 12% dari Rp57.720 per ton menjadi Rp64.655 per ton.

Untuk kargo curah kering lewat kapal naik 7% dari Rp47.000 per metrik ton (MT) menjadi Rp50.290 per MT. Selain itu, untuk curah cair internasional naik 20% dari Rp26.000 per MT menjadi Rp33.600 per MT.

Adapun OPP/OPT untuk layanan kargo curah cair domestik yang sebelumnya Rp23.000 per MT naik 20% menjadi Rp27.600 per MT, sedangkan untuk layanan bongkar muat hewan ternak, kendaraan niaga maupun bus atau truk naik 5%.

Tag : tanjung priok
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top