Dilema Kualitas Video dan Trafik Data

Kualitas video di jaringan seluler Amerika Serikat yang hanya terpaut dua posisi dari Indonesia padahal kecepatan unduh di Negeri Paman Sam mencapai 16,53 Mbps.
Demis Rizky Gosta | 26 September 2018 12:08 WIB
Pengunjung berada di gerai ponsel pintar di sebuah pusat perbelanjaan, di Jakarta, Rabu (20/6/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Open Signal melakukan survei atas kualitas video yang diakses melalui jaringan mobile di 69 negara. Pengalaman menikmati video lewat sambungan seluler di Republik Ceko dinilai terbaik, sedangkan Indonesia berada dalam 10 negara dengan kualitas terburuk.

Satu hal yang mengejutkan, adalah kualitas akses konten video di jaringan seluler Amerika Serikat yang hanya terpaut dua posisi dari Indonesia. Padahal, kecepatan unduh rata-rata jaringan seluler di Negeri Paman Sam mencapai 16,53 Mbps dibandingkan dengan kecepatan unduh rata-rata di Indonesia yang hanya 6,66 Mbps.

Kondisi di AS, menurut Open Signal, dilatari oleh popularitas paket layanan seluler tanpa batas kuota atau unlimited. Paket tersebut disertai batasan kecepatan streaming yang berbeda untuk tiap paket langganan. Mayoritas pengguna seluler di AS hanya bisa menikmati streaming video di resolusi 480 piksel.

Permasalahannya, kualitas pengalaman menonton video juga tidak bisa diperbaiki dengan menghapus batasan tersebut. Jika batasan tersebut diangkat, trafik data akan melonjak tajam. Open Signal memperkirakan peningkatan resolusi video dari 480 piksel menjadi 720 piksel saja menghabiskan data dua kali lipat lebih banyak.

Lonjakan trafik data berujung pada kepadatan jaringan seluler. Ini tidak hanya berpengaruh terhadap kecepatan rata-rata akses seluler, tetapi juga menimbulkan permasalahan latensi dan keandalan sambungan. Semuanya berakibat kepada pengalaman menonton video yang semakin buruk.

Di Indonesia, saat ini, mayoritas pelanggan masih menggunakan paket data dengan kuota. Beberapa operator seperti Smartfren dan Indosat telah menyediakan paket unlimited, tetapi dengan persyaratan khusus seperti pemakaian wajar tiap bulan (fair usage) sebelum kecepatan diturunkan, pembelian ponsel, atau batasan hanya untuk aplikasi tertentu.

Situasi di AS bisa menjadi gambaran tentang kondisi jaringan seluler di Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. Akses video diperkirakan mencakup 78% dari trafik seluler global pada 2021, ini termasuk di Indonesia.

Dengan tarif data yang sangat murah di Tanah Air, bagaimana para operator bisa mempertahankan kualitas layanan mereka?

Tag : smartphone
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top