Tol Laut: Angkutan Semen Bisa Modifikasi Ruas di 3 Trayek

Pengirim barang dapat memodifikasi ruas-ruas di sejumlah trayek tol laut untuk meningkatkan pengangkutan semen ke kawasan timur Indonesia
Sri Mas Sari | 26 September 2018 20:20 WIB
Ilustrasi kapal yang termasuk program tol laut - Antara/Kornelis Kaha
Bisnis.com, JAKARTA -- Pengirim barang dapat memodifikasi ruas-ruas di sejumlah trayek tol laut untuk meningkatkan pengangkutan semen ke kawasan timur Indonesia.
 
Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Agus H. Purnomo menyebutkan tiga trayek yang ruasnya dapat dimodifikasi, yakni trayek T-4 yang melayani rute Tanjung Perak-Makassar-Bitung-Tahuna menggunakan KM Logistik Nusantara 1 dengan operator PT Pelni.
 
Kemudian, trayek T-6 yang melayani rute Tanjung Perak-Makassar-Tidore-Morotai menggunakan KM Logistik Nusantara 2 dengan operator PT Pelni. 
 
Berikutnya, trayek T-15 yang melayani rute Tanjung Perak-Kisar (Wonreli)-Namrole-Sorong menggunakan KM Caraka Jaya Niaga III-32 dengan operator PT Pelni.
 
Agus memberi saran agar setelah muatan semen tiba di daerah tujuan, distribusi ke masyarakat dilakukan melalui Rumah Kita dan pedagang Gerai Maritim yang telah terdaftar di Kementerian Perdagangan dan dinas perdagangan setempat.  
 
“Pendistribusian semen melalui Rumah Kita dan pedagang Gerai Maritim bertujuan agar pendistribusiannya dapat tepat sasaran dan terjadi penurunan harga semen di daerah tujuan karena kita tahu uang tambang atau ongkos angkut tol laut lebih murah, yakni hampir 50% dari ongkos angkut kapal-kapal komersial," katanya dalam siaran pers, Rabu (26/9/2018).
 
Ditjen Hubla juga ingin angkutan tol laut yang mengangkut semen terkoneksi dengan kapal angkutan laut perintis, KM Sabuk Nusantara, sehingga komoditas itu bisa didistribusikan ke pulau-pulau sekitar (hinterland).
 
Saat ini, para pengguna jasa tol laut juga dipermudah dengan layanan aplikasi berbasis online Informasi Muatan dan Ruang Kapal (IMRK), yang memberikan informasi seputar muatan dan kapasitas ruang kapal yang digunakan.
 
“Penerapan aplikasi IMRK berbasis online ini diharapkan mengurangi disparitas harga dan menjaga subsidi program Tol Laut oleh pemerintah dapat berjalan tepat guna dan tepat sasaran,” ujar Agus.
 
Hingga kini, Kemenhub telah mengoperasikan 18 trayek tol laut yang menyinggahi daerah-daerah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan, sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Dirjen Hubla No AL.108/5/5/DJPL-18 tertanggal 3 September 2018 tentang Perubahan atas Kepdirjen Hubla No AL. 108/5/17/DJPL-17 tentang Jaringan Trayek Penyelenggaraan Angkutan Barang di Laut Tahun Anggaran 2018.
 
Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya mengatakan pemerintah akan mengevaluasi lintasan yang kekurangan armada dan kemudian menambah kapal. Prioritas a.l. akan dilakukan di Papua dan Nusa Tenggara Timur.
 
Selain itu, Pelni dengan kapal perintisnya dapat mendistribusikan lebih lanjut semen yang dibawa angkutan tol laut ke lokasi-lokasi terpencil.
 
"Pelni ada kapal perintis yang menyusuri seluruh pesisir Papua," katanya.

 

Tag : Tol Laut
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top