Target Swasembada Gula 2019 Bakal Sulit Tercapai, Ada Apa?

Target swasembada gula konsumsi pada 2019 bakal sulit tercapai, karena hingga kini industri gula kristal putih (GKP) masih mengandalkan bahan baku gula mentah (GM) impor.
Yustinus Andri DP | 11 Oktober 2018 14:33 WIB
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA — Target swasembada gula konsumsi pada 2019 bakal sulit tercapai, karena hingga kini industri gula kristal putih (GKP) masih mengandalkan bahan baku gula mentah (GM) impor.

Ekonom Indef Rusli Abdullah mengatakan, target swasembada dari Kementerian Pertanian itu berat untuk direalisasikan lantaran kebutuhan gula konsumsi nasional pada tahun ini mencapai 2,9 juta ton. Angka itu saja belum bisa sepenuhnya dipenuhi dari dalam negeri karena adanya penurunan produktivitas pabrik gula (PG) maupun petani, sehingga produksi GKP tahun ini diperkiran hanya 2,2 juta ton.

“Tidak heran jika pada 2018, izin impor GM untuk GKP mencapai 1,1 juta ton. Kalau dilogika pun, sangat sulit nantinya untuk berbalik menjadi surplus atau swasembada pada tahun depan,” katanya Bisnis.com, Rabu (10/10/2018).

Dia menyebutkan, investasi  PG baru sekalipun tidak bisa serta merta menambah produksi GKP nasional. Pasalnya, penambahan PG tidak selalu diringi dengan penambahan luas lahan perkebunan tebu.

Rusli memperkirakan, kebutuhan impor GM untuk GKP pada 2019 akan tetap ada, meskipun lebih sedikit dari tahun ini.

Sebelumnya. Badan Ketahan Pangan Kementan mengklaim, target swasembada gula didasarkan pada munculnya 17 investor PG baru pada 2019.

PG tersebut diperkirakan menghasilkan lahan perkebunan tebu baru seluas 604.000 hektare mulai tahun depan. Hal itu akan menambah produksi gula nasional pada 2019 sebanyak 2,35 juta ton.

Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia Soemitro Samadikoen juga pesimistis dengan target swasembada tersebut. Pasalnya, dia melihat saat ini semakin banyak petani tebu yang mengubah jenis tanaman yang ditanamnya.

“Saya mendukung adanya pengendalian impor gula. Namun, untuk berbalik menjadi swasembada atau surplus sangat sulit. Harga gula petani yang terlanjur jatuh membuat petani tebu kapok dan tidak mau lagi menanam tebu,”paparnya.

Soemitro memprediksi  kehadiran PG baru pun belum tentu sukses menghasilkan lahan tebu baru di Indonesia.

“Bisa saja, pabrik baru memilih memasok GM dari Thailand atau Australia. Jadi bukannya mengurangi impor, tetapi menambah impor. Jadi impor gula mentah tahun depan bisa saja tak berkurang.”

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengaku belum dapat memperkirakan apakah impor GM untuk GKP tahun depan akan bertambah atau berkurang. “Neraca gula masih disusun. Jadi untuk impor tahun depan belum dapat diperkirakan naik atau tidak. Izin impor tahun ini pun belum seluruhnya dikeluarkan,” katanya.

Tag : gula
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top