Lima Investor Asing Bersedia Biayai Proyek Infrastruktur

Lima perusahaan asal China, Hong Kong, Belanda, dan Malaysia berkomitmen membiayai sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia.
Ema Sukarelawanto | 11 Oktober 2018 15:26 WIB
Kepala Badan Koordinasi Penanamam Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong (kiri) di sela-sela acara Forum Infrastruktur di Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group, Kamis (11/10/2018). - Bisnis/Ema Sukarelawanto

Bisnis.com, BADUNG — Lima perusahaan asal China, Hong Kong, Belanda, dan Malaysia berkomitmen membiayai sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia.

Kepala Badan Koordinasi Penanamam Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong mengaku belum bisa menyampaikan secara detail kepada publik tentang lima perusahaan beserta total nilai investasinya.

“Sudah ada investor yang berkomitmen, tapi saya belum mendapat izin mengumumkan ke publik,” katanya di sela-sela Forum Infrastruktur yang digelar BKPM  bersama PT Bank HSBC Indonesia yang merupakan kegiatan paralel Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group, Kamis (11/10/2018).

Pada acara Hi Tea Event, Lembong bertemu lima investor  asal China, Hong Kong, Belanda, dan Malaysia membicarakan proyek infrastruktur yang meliputi power plant, pelabuhan, konstruksi, dan logistik dengan nilai investasi mencapai US$31,4 miliar.

Menurut Lembong diperlukan konsolidasi dan koordinasi yang kuat antara moneter, fiskal dan dunia usaha untuk mewujudkan pembangunan nasional. 

Forum Infrastruktur BKPM-HSBC yang dihadiri 500 investor itu merupakan forum komunikasi antara pemerintah dengan para investor dalam dan luar negeri, baik di sektor infrastruktur maupun keuangan dan lembaga perbankan.

“Acara ini membahas mengenai peluang pengembangan sektor infrastruktur di Indonesia serta perkembangan-perkembangan terkini dalam skema pendanaan infrastruktur,” katanya.

Kegiatan tersebut, kata Lembong, merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menggeser pendanaan infrastruktur kepada swasta, termasuk ke pasar modal pada saat nilai tukar rupiah tertekan.

“Sekuritisasi atau menguangkan aset-aset  infrastruktur ke pasar modal untuk memicu arus modal masuk ini semakin mendesak,” katanya.

Ia menyebut cukup banyak pula investor dari Eropa seperti perusahaan asuransi dan reksa dana yang tertarik mempelajari instrumen infrastruktur serta ingin masuk ke pasar modal. Ada pula sejumlah investor, kebanyakan dari Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan China,  yang ingin masuk ke sektor riil.

Lembong mengatakan definisi infrastruktur perlu diperluas agar lebih fleksibel dan dinamis untuk menawarkan peluang investasi. Ia, mencontohkan sektor telekomunikasi termasuk infrastruktur melalui proyek pemasangan kabel fiber optik atau jaringan komunikasi untuk memperluas akses internet.

Deputy Chairman and Chief Executive HSBC Asia Pacific Peter Wong mengatakan Indonesia tidak hanya memiliki populasi yang besar, tetapi juga memiliki banyak potensi yang siap digali dan dimanfaatkan. 

Tag : annual meetings IMF-World Bank
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top