Jalan Tol Masih Jadi Favorit Investor

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengklaim minat investor dan lembaga keuangan untuk membiayai proyek jalan tol masih tinggi. Pembangunan proyek jalan tol lewat pembiayaan non anggaran pun terus dipacu.
Rivki Maulana | 12 Oktober 2018 12:56 WIB
Pengendara melintas di area proyek pembangunan jalan tol Pekanbaru-Dumai, di kawasan Muara Fajar, Pekanbaru, Riau, Senin (25/9/2017). - ANTARA/Rony Muharrman

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengklaim minat investor dan lembaga keuangan untuk membiayai proyek jalan tol masih tinggi. Pembangunan proyek jalan tol lewat pembiayaan non anggaran pun terus dipacu.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pemerintah telah menyediakan beragam instrumen untuk berbagi risiko dalam pembangunan jalan tol. Beragam dukungan mulai dari penjaminan hingga dukungan kelayakan pun telah dirilis.

Dia menerangkan anggaran pembangunan infrastruktur di Kementerian PUPR dalam empat tahun terakhir rata-rata sebesar Rp 105 triliun. Basuki menyebut pemerintah perlu mencari alternatif pembiayaan lain di luar APBN, termasuk melalui skema investasi dan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

“Melalui KPBU, insyaallah, proyek yang sudah dimulai akan selesai karena tidak bergantung siklus APBN dan dapat diawasi oleh banyak pihak,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (12/10/2018).

Basuki mengklaim karakter investasi jalan tol yang padat modal dan tingkat pengembalian modal di atas 30 tahun tidak menyurutkan minat dan kepercayaan investor. Terkait hal tersebut, sejumlah perjanjian kerja sama antara Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dengan perbankan dan lembaga keuangan telah diteken pada acara Indonesia Investment Forum 2018.

Perjanjian yang ditandatangani antara lain penerbitan investasi jalan tol yakni Kontrak Investasi Kolektif Dana Investasi Infrastruktur (KIK-Dinfra) senilai US$112 juta oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Jasa Marga juga menerbitkan Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) bersama Bank Mandiri serta AIA, Taspen, Wana Artha, Allianz dan Indonesia Infrastruktur Finance (IIF) senilai US$224 juta.

Di proyek jalan tol Trans Sumatra, PT Hutama Karya (Persero) mendapat kucuran kredit investasi senilai US$523 juta dan fasilitas Credit Default Swap (CDS) loan US$392 juta dari PT Bank Mega Tbk. Pinjaman ini digunakan untuk mendanai ruas Pekanbaru - Dumai.

Hutama Karya juga meneken perjanjian monetisasi aset senilai US$336 juta dengan Bank ICBC, Bank MUFG, PT Bank Permata Tbk., dan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Hutama Karya juga diguyur kredit sebesar US$684 juta dan CDS US$388 juta dari Bank Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank CIMB Niaga Tbk., dan Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Tag : investasi, jalan tol
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top