Enam Kontraktor BUMN Lolos Prakualifikasi Proyek Bendungan Meninting

Sebanyak enam kontraktor BUMN dinyatakan lolos prakualifikasi dua paket proyek pembangunan bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat dengan total nilai pengerjaan sebesar Rp1,419 triliun.
Irene Agustine | 12 Oktober 2018 14:17 WIB
Ilustrasi bendungan

Bisnis.com, JAKARTA -- Sebanyak enam kontraktor BUMN dinyatakan lolos prakualifikasi dua paket proyek pembangunan bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat dengan total nilai pengerjaan sebesar Rp1,419 triliun.
 
Dilansir dari laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kementerian PUPR,  keenam BUMN masing-masing lolos pada dua paket pengerjaan yang ditawarkan dengan perincian nilai Harga Perkiraan Sendiri (HPS) paket I mencapai Rp923,24 miliar dan paket II mencapai Rp496,29 miliar.
 
Keenam BUMN tersebut yakni PT Hutama Karya (Persero) wilayah IV, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., PT Waskita Kaya (Persero) Tbk., PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).
 
Kepala Pusat Bendungan Kementerian PUPR Ni Made Sumiarsih mengatakan setelah ditetapkan hasil prakualifikasi, keenam BUMN diminta untuk memberikan dokumen penawaran terhadap proyek. Proses pelelangan ditargetkan selesai dan diketahui pemenangnya untuk menandatangani kontrak dalam dua bulan.
 
"Kontrak proyek Meninting ditargetkan bisa dilakukan pada awal Desember 2018," ujarnya, Jumat (12/10/2018).
 
Dalam laman LPSE Kementerian PUPR, disebutkan cara pembayaran kontrak proyek bendungan tersebut dilakukan dengan skema harga satuan dan pembebanan tahun anggaran berupa tahun jamak. Adapun sumber dana berasal dari pengadaan tunggal.
 
Bendungan Meninting direncanakan memiliki volume tampung mencapai 9,9 juta meter kubik dengan luas areal irigasi 1.559 ha.
 
Sebagai informasi, pembangunan Meninting dipercepat dari timeline awal pada tahun depan untuk menggantikan pembangunan bendungan Digoel di Papua, yang masih belum siap untuk dibangun pada 2018 lantaran desain proyek belum rampung.
 
Dengan demikian, target lelang pembangunan bendungan untuk tahun anggaran 2018 tetap sebanyak 11 bendungan. 
 
Pertimbangannya, tutur Sumiarsih, kelengkapan persyaratan untuk memulai lelang di bendungan ini sudah sangat siap dengan telah menyelesaikan desain pembangunan, studi analisis dampak lingkungan (amdal), dan melakukan pleno.
 
Bendungan Meninting bahkan lebih dahulu dimajukan dibandingkan enam bendungan lainnya yang tersisa pada tahun ini untuk dilelang. 
 
Sebelumnya, pemerintah menargetkan dapat melelang 11 proyek bendungan untuk tahun anggaran 2018 yakni Randugunting dan Jlantah di Jawa Tengah, Sadawarna di Jawa Barat, Beringin Sila di Nusa Tenggara Barat, Digoel di Papua, Manikin dan Mbay di Nusa Tenggara Timur, Bolangu Hulu di Gorontalo, Rukoh di Aceh, Bagong di Jawa Timur, dan Tamblang di Bali.
 
Saat ini, terdapat enam proyek bendungan yang masih dalam proses pelelangan, yakni Sadawarna, Randugunting, Jlantah, Beringin Sila, Meninting, dan Tamblang.
 
Sementara itu, lima proyek sisanya masih dipersiapkan dokumen pelelangannya. Bendungan Bagong direncanakan menjadi yang pertama, sedangkan Mbay diperkirakan akan dilelang paling akhir.
 
"Untuk bendungan Mbay, konsultan harus menambah investigasi geologi untuk membuktikan, sehingga jadinya agak lama desainnya untuk selesai. Namun, kami targetkan tetap tahun ini dilelang," jelas Sumiarsih.

Tag : bendungan, Kementerian PUPR
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top