Pemerintah Siap Sewa Satelit HTS, Pilihannya Hong Kong atau Eropa

Sambil menanti pembangunan satelit milik pemerintah, BAKTI akan menyewa unit satelit yang memiliki orbit berdekatan dengan Indonesia.
Duwi Setiya Ariyanti | 22 Oktober 2018 10:28 WIB
Ilustrasi satelit komunikasi - Wikimedia Commons

Bisnis.com, JAKARTA — Sebelum high-throughput satellite milik pemerintah mengangkasa, pemerintah berencana menyewa satelit milik swasta untuk menghubungkan 150.000 titik di penjuru Indonesia. Badan Aksesibilitas Telekomunikasi Indonesia (BAKTI) bakal menetapkan vendor satelit tersebut bulan ini, kemungkinan besar berasal dari Hong Kong atau Eropa.

Direktur Utama BAKTI Anang Latif mengatakan pihaknya saat ini memiliki dua kandidat untuk penyedia jasa satelit jenis HTS sebagai alternatif karena pihaknya harus menanti proses pengadaan dan konstruksi satelit HTS milik pemerintah. 

Pihaknya telah mengeluarkan nilai proyek yakni sebesar Rp6,68 triliun berkapasitas 150 Gbps. Adapun, lelang proyek baru selesai akhir tahun ini dan beroperasi pada 2022. 

Pemerintah telah mengumumkan tujuh peserta lelang satelit yakni Konsorsium Indosat Lintasarta Jsat; Eutelsat, SA; Konsorsium Bakti Untuk Negeri; Konsorsium Dharma Bakti; Konsorsium PSN, Konsorsium PT Satelit Multimedia Indonesia-APT Satellite Company Limited dan Viasat, Inc.

Sambil menanti prosesnya selesai, pihaknya pun akan menyewa unit satelit yang memiliki orbit berdekatan dengan Indonesia. Dia menyebut pada bulan ini bisa diputuskan vendornya sehingga tahun depan bisa mulai beroperasi. 

"Belum [ditetapkan]. Target akhir Oktober [penetapannya],” ujarnya saat dihubungi Bisnis, belum lama ini.

Anang menuturkan pihaknya mencari vendor satelit HTS yang berada di Ku-band karena alasan biaya yang lebih rendah. Sebagai gambaran, harga sewa satelit HTS di kisaran US$300 per Mbps per bulan, sedangkan, jenis satelit lainnya menawarkan harga sewa US$600 per Mbps per bulan.

"Yang kami cari yang teknologinya juga HTS di band Ku dengan coverage Indonesia karena dengan HTS akan menawarkan harga layanan lebih murah dibanding teknologi konvensional," katanya. 

Menurutnya, belum banyak negara yang menggunakan satelit jenis ini. Kendati demikian, sebelumnya dia menyebut sudah ada dua vendor yang masuk dalam radar. 

Anang hanya menyebutkan asal negara vendor yang kemungkinan akan dipilih yakni asal Hong Kong dan Eropa. 

“Satelit Hong Kong sama satu lagi dari Eropa. Nanti kita negosiasi ada enggak kapasitas untuk melayani kebutuhan kita,” katanya. 

Tag : satelit
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top