Jepang Minta Facebook Tingkatkan Perlindungan Data Pribadi

Sikap ini diambil komisi setelah terlibat dalam penyelidikan bersama otoritas Inggris dan negara lainnya mengenai kasus Cambridge Analytica.
Dhiany Nadya Utami | 23 Oktober 2018 06:57 WIB
Logo Facebook di kantor Facebook Indonesia - Bisnis/Dhiany Nadya Utami

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Jepang meminta Facebook untuk lebih melindungi data pribadi penggunanya. Pernyataan tersebut masih merupakan buntut dari kasus penyalahgunaan data Facebook yang ramai sejak awal tahun ini.

Hari ini, Senin (22/10/2018), Komisi Perlindingan Informasi Jepang mengeluarkan pernyataan yang berisi permintaan kepada raksasa internet asal Amerika Serikat tersebut. Sikap ini diambil komisi setelah terlibat dalam penyelidikan bersama otoritas Inggris dan negara lainnya mengenai kasus Cambridge Analytica.

Dalam pernyataan tersebut pemerintah Jepang mengimbau Facebook untuk selalu mengomunikasikan masalah keamanan pada pengguna, meningkatkan pengawasan terhadap penyedia aplikasi di platformnya, serta memberi tahu regulator mengenai segala perubahan yang berkaitan dengan keamanan data.

Komisi mengatakan bahwa insiden Cambridge Analytica berpotensi mempengaruhi hingga 100.000 pengguna Facebook di Jepang. Selain itu, serangan siber yang baru-baru ini terjadi juga memiliki kemungkinan berdampak pada pengguna di Jepang.

“Facebook telah berjanji untuk memberikan detail mengenai bagaimana mereka akan menanggapi permintaan ini lewat situs mereka dalam bahasa Jepang,” kata perwakilan komisi seperti dikutip Bisnis dari Reuters, Senin (22/10/2018).

Adapun pernyataan dari Komisi Perlindungan Informasi Pribadi Jepang ini tidak mengandung perintah atau  terikat dengan hukum. Pihak Facebook juga tak memberi tanggapan mengenai hal ini.

 Para akhir Maret silam, para pengguna Facebook dihebohkan dengan pengungkapan kasus penyalahgunaan data pengguna oleh aplikasi pihak ketiga besutan firma konsultan Cambridge Analytica dalam platform Facebook. 

Menyusul, pihak Facebok menyatakan setidaknya ada 87 juta pengguna dari berbagai negara yang datanya terdampak kasus tersebut akan tetapi pernyataan tersebut kemudian mereka ralat kembali.

Tag : facebook
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top