Greenpeace: Dunia Krisis Sampah Plastik

Greenpeace menyatakan kondisi \"krisis\" polusi plastik melalui laporan yang diluncurkan serempak di seluruh dunia pada Selasa (23/10/2018).
Wibi Pangestu Pratama | 24 Oktober 2018 06:15 WIB
Aktivitas audit sampah plastik Greenpeace Indonesia di Sanur, Bali. - Dok. Greenpeace Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Greenpeace menyatakan kondisi "krisis" polusi plastik melalui laporan yang diluncurkan serempak di seluruh dunia pada Selasa (23/10/2018).

Organisasi internasional Greenpeace meluncurkan laporan "A Crisis of Convenience: The corporations behind the plastics pollution pandemic" yang membahas polusi plastik secara global. Dalam laporan tersebut tercatat bahwa plastik sekali pakai menjadi pendorong utama terjadinya krisis sampah plastik. Pada 2015, Greenpeace mencatat terdapat 448 juta ton sampah plastik.

Ahmad Ashov, Global Plastics Project Leader Greenpeace Indonesia, menjelaskan bahwa kondisi krisis tersebut didasari industri produsen barang kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods atau FMCG) yang belum berkomitmen penuh menyelesaikan persoalan limbah sampah plastik. Industri sektor FMCG sendiri tumbuh 1-6% per tahun. Permasalahan lain adalah daur ulang sampah belum bisa mengatasi masalah sepenuhnya.

Berdasarkan survei komprehensif yang dilakukan Greenpeace ke sebelas perusahaan FMCG raksasa di dunia, kemasan sekali pakai masih menjadi primadona. Ashov menjelaskan penggunaan kemasan sekali pakai oleh perusahaan tersebut tidak disertai strategi komprehensif yang mencakup komitmen untuk beralih dari plastik sekali pakai.

"[Perusahaan] sudah mencoba berubah [dari kemasan sekali pakai], mereka khawatir konsumen kurang nyaman," ujar Ashov kepada Bisnis, Selasa (23/10/2018).

Greenpeace mencatat bahwa sebagian besar perusahaan FMCG terus meningkatkan produksi kemasan plastik sekali pakai, yang kemudian diikuti dengan bertambahnya limbah plastik dari kemasan tersebut. Transparansi perusahaan FMCG pun dinilai kurang dalam mengungkapkan data penting mengenai penggunaan plastik mereka.

Ashov menjelaskan dalam kondisi tersebut industri fokus pada proses daur ulang dan eksplorasi komposisi kemasan yang dapat didaur ulang. Dia berpendapat bahwa mendaur ulang merupakan proses penting, namun tidak menyelesaikan masalah.

Ashov menilai industri seharusnya fokus dalam mengurangi kemasan plastik sekali pakai dan menciptakan sistem pengiriman produk yang baru.

Kepada Bisnis, Ashov menjelaskan bahwa Greenpeace menawarkan empat rekomendasi, yaitu industri perlu transparan memberikan informasi komprehensif tentang jejak plastik dan plastik yang mereka gunakan. Industri pun perlu berkomitmen dalam mengurangi plastik sekali pakai secara bertahap.

Selanjutnya, industri menghapus penggunaan plastik sekali pakai yang bermasalah dan tak diperlukan. Rekomendasi terakhir adalah industri berinvestasi dalam sistem penggunaan kembali dan sistem pengiriman produk alternatif.

 

 

 

 

Tag : greenpeace, plastik
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top