OPINI: Peran Strategis Humas di Era Industri 4.0

Benarkah robot dan Artificial Intelligence akan menggantikan profesi public relations? Tidak! Kompetensi public relations membutuhkan kombinasi unik antara intuisi, nalar, empati, emosi serta kreativitas yang tidak terbatas (limitless)! Hal ini menjadi keterbatasan mesin Artificial Intelligence untuk dilatih.nn 
Agung Laksamana, Ketua Umum BPP Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia | 26 Oktober 2018 13:56 WIB
Ilustrasi logo revolusi industri 4.0. - Reuters/Wolfgang Rattay

Bisnis.com, JAKARTA – “Apakah Humas bisa digantikan robot dan artificial intelligence nantinya?” Seorang peserta bertanya dengan nada khawatir dalam sebuah diskusi di Banda Aceh beberapa waktu lalu.

Di tengah serbuan teknologi, tidaklah heran jika kekhawatiran tersebut muncul. Peran manusia akan berkurang, bahkan digantikan Artificial Intelligence dan robot termasuk profesi hubungan masyarakat atau public relations (PR).

Kenyataannya, kita telah berada era Industri 4.0! Era yang telah mendisrupsi tidak saja tatanan proses bisnis yang ada, tetapi juga peran profesi di dalamnya, mulai dari sales, operation, marketing, keuangan, jurnalisme dimana robot sudah bisa menulis berita sendiri, hingga dunia public relations.

Kita ketahui bahwa ini bukan pertama kali era industri dunia berevolusi. Di akhir abad ke-18, kita telah mengenal Industri 1.0 dengan hadirnya alat tenun mekanis pertama pada tahun 1784. Kala itu, industri diperkenalkan dengan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap.

Selanjutnya, Industri 2.0 adalah era revolusi produksi massal. Sementara, era industri 3.0 adalah era penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi.

Dalam era Revolusi Industri 4.0, kita disajikan dengan sophistikasi teknologi dari Internet of Things (IoT), Big Data, Artificial Intelligence, human-machine interface, Cloud, Computer Quantum, robot, 3D printing, Augmented Reality and Virtual Reality (AR/VR) hingga Mixed Reality!

Indonesia pun bergerak cepat dengan gebrakan strategisnya! Pemerintah langsung mengeluarkan Peta Jalan Pembangunan Industri Nasional dengan branding “Making Indonesia 4.0” pada April 2018.

Bahkan pemerintah optimistis jika Indonesia bisa menerapkan hal ini, maka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil bisa tumbuh 1%-2% per tahun nantinya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika turut mencanangkan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020. Kita siap bersaing dengan India yang berambisi jadi kekuatan sains global pada tahun 2020 dan China yang mengumumkan visi sebagai pusat inovasi Artificial Intelligence pada tahun 2030.

Transformasi Humas

Benarkah robot dan Artificial Intelligence akan menggantikan profesi public relations? Opini saya tidak. Kompetensi public relations membutuhkan kombinasi unik antara intuisi, nalar, empati, emosi serta kreativitas yang tidak terbatas (limitless)! Hal ini menjadi keterbatasan mesin Artificial Intelligence untuk dilatih.

Walaupun, disrupsi teknologi telah mengubah cara kerja, serta proses dunia public relations, di satu sisi hal ini bisa membuka lapangan pekerjaan baru. Dengan catatan, kita jeli dalam mencari celah, tidak takut, mengikuti perkembangan dan menguasai teknologi. “Teknologi harus menjadi budak kita, bukan kita yang menjadi budak teknologi," kata Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika dalam suatu kesempatan.

Persepsi lama bahwa public relations hanya berfungsi sebagai media relations, membuat klipping, protokoler serta publikasi di konvensional media semata haruslah kita tinggalkan. Sekarang profesi tersebut dituntut memiliki keahlian yang lebih kompleks.

Artinya, transformasi public relations dalam era revolusi Industri 4.0 adalah sebuah keniscayaan! Ada beberapa langkah penting yang harus diambil.

Pertama, kompetensi. Dunia digital menjadi skill sets yang mutlak dimiliki. Public relations Indonesia harus meng-upgrade dan memiliki kompetensi teknologi dan non-teknologi mumpuni. Di era industri 4.0, dunia butuh praktisi PR dengan fleksibilitas dan mobilitas yang tinggi, kemampuan digital, analitik, menulis konten, membangun jaringan, selalu haus akan informasi terkini dan memiliki spesialisasi.

Kedua, personalisasi konten. No 'One Size Fits All messages' untuk konten public relations. Agar impactful, praktisi public relations harus kreatif dan bisa berkomunikasi secara personal.

Dengan tsunami konten dan overload informasi di dunia saat ini, Public Relations 4.0 harus lebih selektif melihat siapa target audience-nya, kanal yang digunakan, serta konten yang relevan dengan mereka.

Hal yang sama ketika public relations dihadapkan dalam situasi krisis, manajemen reputasi, dan membangun sebuah brand. Dengan kata lain, Public Relations 4.0 harus bisa menjadi Producer dan Publisher konten.

Ketiga, kreatif dan pahami global tren. Lihatlah perkembangan teknologi dari fenomena video 360 CNN, live streaming , drone hingga mixed reality dari Windows. Kita harus mengombinasikan digital teknologi ini untuk peran fungsi Public Relations di era 4.0.

Keempat, integritas. Di era disrupsi ini, public relations mudah terbawa arus polemik isu dari hoax hingga fake news. Hubungan masyarakat harus tetap memiliki tata kelola (Good Governance), akuntabel, transparan dan menjawab bukan hanya kebutuhan stakeholders, tapi juga seluruh warga negara.

Esensinya, membangun Trust dan Reputasi melalui branding “Making Indonesia 4.0” juga butuh agenda setting serta peran strategis Humas 4.0. Dibutuhkan kolaborasi Humas pemerintah, swasta bahkan akademisi untuk mensosialisasikan Brand Indonesia!

Hal ini karena ekspektasi stakeholders pada peran fungsi strategis public relations menjadi tiga kali lebih berat dari sebelumnya.

Tantangan ini tidaklah mudah, namun, bukan hal yang tidak mungkin! Selamat datang era Industri 4.0. Waktunya kita menjadi Humas 4.0. untuk #Indonesiabicarabaik!

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Jumat (26/10/2018)

Tag : Revolusi Industri 4.0
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top