Problem Tarif Jadi Tantangan Ekspor Perhiasan Indonesia

Perjanjian perdagangan bebas perlu diwujudkan agar bisa menghilangkan tarif masuk.
Wibi Pangestu Pratama | 29 Oktober 2018 02:24 WIB
Penjual menata produk perhiasan di salah satu stan pada Surabaya International Jewellery Fair 2018 di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/10/2018). Pameran perhiasan yang berlangsung 25-28 Oktober 2018 tersebut diikuti 170 peserta dari dalam dan luar negeri guna mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya industri dan perajin kreatif perhiasan di Indonesia. - Antara/Moch Asim

Bisnis.com, JAKARTA – Perjanjian perdagangan bebas perlu diwujudkan agar bisa menghilangkan tarif masuk yang menjadi salah satu penghambat perhiasan Indonesia menembus pasar sejumlah negara.

Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin, Gati Wibawaningsih, beberapa waktu lalu di Jakarta mengatakan tarif bea masuk di negara-negara tujuan ekspor perlu jadi perhatian pemerintah untuk bisa meningkatkan nilai ekspor.

Salah satu langkah yang perlu diambil adalah inisiasi dibentuknya free trade agreement (FTA) dengan negara tujuan ekspor.

Gati mencontohkan Turki dan Dubai sebagai negara tujuan ekspor yang potensial masih mengenakan bea masuk sebesar 5%. Dia pun membandingkan dengan Singapura yang tidak dikenakan bea masuk terhadap ekspor perhiasannya ke Dubai karena adanya FTA.

"Kami akan berbicara dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan soal bea masuk tersebut. Kami berharap, dengan nanti adanya FTA, tarif bea masuk 0% itu bukan hanya berlaku untuk perhiasan, tetapi juga komoditas lain," tutur Gati dalam keterangan resmi.

Gati pun menjelaskan untuk memperkuat industri dalam negeri, Kemenperin akan memfasilitasi IKM perhiasan dalam negeri untuk berpartisipasi dalam pameran tingkat nasional dan internasional. Partisipasi tersebut selain dapat membantu promosi juga dapat memperluas jaringan pasar IKM hingga ke mancanegara.

Pemerintah mencatat sekitar 50% industri perhiasan nasional berada di Jawa Timur. Hingga September 2018, daerah tersebut mencatatkan nilai ekspor perhiasan dan permata sebesar Rp45 triliun. Pertumbuhan industri perhiasan di sana pun tercatat positif, pada 2016 pertumbuhannya mencapai 12% dan pada 2018 masih berada pada kisaran dua digit.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo menjelaskan Jawa Timur saat ini merupakan kawasan kumpulan emas terbesar di Asia Tenggara, dengan 11 kota/kabupaten yang berpotensi dalam pengembangan industri perhiasan dan aksesoris.

"Jadi Jatim ini tempat yang baik karena bahan baku dan proses industri ada di sini," ujar Soekarwo dalam keterangan resmi.

Potensi tersebut dinilai Gati perlu didorong dengan diselenggarakannya pagelaran pameran dan promosi perhiasan di Jawa Timur. Gati mencontohkan adanya ajang Surabaya International Jewelry Fair yang dapat membantu IKM mempromosikan produk terbaiknya.

Selain itu, Gati pun menjelaskan Kemenperin melakukan peningkatan keterampilan sumber daya manusia dalam bidang desain, mesin, dan produksi untuk mendorong daya saing perhiasan nasional.

Tag : perhiasan
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top