PLN Rugi Rp18,46 Triliun, Ini Penjelasan Sofyan Basir

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengklaim bahwa arus kas dan likuiditas perseroan masih kuat kendati mengalami kerugian Rp18,46 triliun pada kuartal III/2018.
Yodie Hardiyan | 31 Oktober 2018 18:12 WIB
Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir, usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Jumat (20/7/2018). - ANTARA/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengklaim bahwa arus kas dan likuiditas perseroan masih kuat kendati mengalami kerugian Rp18,46 triliun pada kuartal III/2018.

Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Sofyan Basir mengklaim bahwa arus kas perseroan masih kuat kendati mengalami kerugian senilai Rp18 triliun pada kuartal III/2018.

Sofyan menjelaskan, PLN mengalami kerugian dalam hal pembukuan, bukan secara operasional.

"Kami secara usaha, secara operasional, itu untung. Oleh karena itu, likuiditas kuat, tidak ada masalah," katanya Sofyan ditemui di Istana Kepresidenan, Rabu (31/10).

Dia menjelaskan, perseroan tidak rugi secara riil atau operasional, melainkan hanya rugi secara pembukuan.

Menurutnya, kerugian secara pembukuan berbeda dibandingkan dengan kerugian operasional. Sofyan menegaskan bahwa arus kas PLN tidak terganggu.

"Yang saya bilang rugi itu pembukuan, itu kan ada kita punya utang, misal utang dolar. Kan hari ini tidak dieksekusi utangnya, enggak dilunasi, cuma karena ada selisih kurs, kita bukukan ke kerugian," kata Sofyan yang mengilustrasikan utang itu akan dibayar 20 tahun lagi.

PLN mencatat kergian Rp18,46 triliun pada kuartal III/2018 yang dipicu oleh peningkatan beban operasi, terutama selisih nilai tukar.

Berdasarkan laporan keuangan PLN pada kuartal III/2018 yang dirilis Selasa

(30/10), rugi kurs mendominasi hingga Rp17,32 triliun. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, kerugian dari selisih kurs hanya sebesar Rp2,2 triliun.

Terkait dengan arus kas, Sofyan menegaskan, perseroan telah menerbitkan obligasi global senilai US$1,5 miliar beberapa waktu lalu. Surat utang global itu diterbitkan  dalam mata uang dolar Amerika Serikat dan Euro.

"Jadi kami punya US$1,5 miliar buat 'nutup' [rugi kurs]. Untuk memperpanjang re-profiling, [jatuh tempo utang] kami mundurkan jauh sehingga arus kas kami masih kuat.”

Sofyan menambah, PLN masih surplus US$500 juta. “Jadi, keuangan PLN tidak punya masalah soal arus kas, kewajiban-kewajiban bisa diselesaikan," katanya.

Laba usaha setelah subsidi tercatat sebesar Rp16,69 triliun turun 29,75% dibandingkan kuartal III/2017 yang mencapai Rp23,76 triliun.

Pendapatan usaha PLN kuartal III/2018 mencapai Rp200,9 triliun atau tumbuh 6,97% dari realisasi periode yang sama tahun lalu Rp187,8 triliun.

Pendapatan terbesar berasal dari penjualan listrik yang naik sebesar 6,93% atau sebesar Rp194,4 triliun. Selebihnya, pendapatan berasal dari penyambungan pelanggan senilai Rp5,2 triliun dan lain-lain.

Beban usaha PLN juga tercatat meningkat menjadi Rp224 triliun atau naik 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp200 triliun.

Beban usaha terbesar PLN berasal dari pembelian bahan bakar dan pelumas yang mencapai Rp101,8 triliun.

Untuk beban pembelian batu bara meningkat dari Rp29,7 triliun pada kuartal III/2017 menjadi Rp34,8 triliun pada kuartal III/2018.  Kemudian beban pembelian Solar meningkat dari Rp17,2 triliun menjadi Rp24 triliun, sedangkan gas meningkat menjadi Rp40 triliun dari sebelumnya Rp35 triliun. Beban pembelian tenaga listrik dari pengembang listrik swasta naik menjadi Rp60,6 triliun dari sebelumnya Rp53,54 triliun.

Tag : PLN
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top