Ekonomi Digital Asia Tenggara Bakal Tembus US$240 Miliar pada 2025

Ekonomi digital di Asia Tenggara diperkirakan dapat bernilai lebih dari US$240 miliar, hampir Rp351 triliun, pada 2025 atau lebih besar dibandingkan proyeksi sebelumnya yang sebesar US$200 miliar.
Annisa Margrit | 19 November 2018 11:54 WIB
Pengunjung berada di gerai ponsel pintar di sebuah pusat perbelanjaan, di Jakarta, Rabu (20/6/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonomi digital di Asia Tenggara diperkirakan dapat bernilai lebih dari US$240 miliar, hampir Rp351 triliun, pada 2025 atau lebih besar dibandingkan proyeksi sebelumnya yang sebesar US$200 miliar.

Hal itu disampaikan dalam laporan bersama Google dan Temasek Holdings, seperti dilansir Reuters, Senin (19/11/2018). Peningkatan ini didorong oleh jumlah kepemilikan smartphone yang terus bertambah.

Laporan tersebut menghitung perkembangan ekonomi digital di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Selain itu, laporan kali ini mencantumkan tambahan subsektor yakni layanan pengiriman makanan, layanan musik berlangganan, dan Video on Demand (VOD). Pada laporan pertama yang dirilis pada 2016, hanya ada subsektor layanan ride-hailing, e-commerce, layanan travel online, dan media daring.

Laporan ini menyebutkan Gross Merchandise Value (GMV) dari kawasan Asia Tenggara telah menembus US$72 miliar pada 2018, tumbuh 37% dari tahun lalu.  

Perkembangan ekonomi digital di kawasan ini mendapat keuntungan dari besarnya penggunaan internet di masyarakat, di mana lebih dari 90% warga Asia Tenggara terkoneksi ke internet. Harga smartphone yang makin terjangkau dan layanan telekomunikasi yang dapat diandalkan menjadi faktor pendukung lainnya.

Nilai GMV e-commerce diprediksi naik menjadi US$23 miliar dan menyentuh US$100 miliar pada 2025. Kondisi tersebut didukung oleh makin besarnya skala e-commerce di kawasan ini, termasuk Lazada, Shopee, dan Tokopedia.

Sementara itu, GMV ride-hailing dan layanan pengiriman makanan telah mencapai US$7,7 miliar pada tahun ini.

“Didukung oleh ambisi Go-Jek dan Grab untuk menjadi aplikasi sehari-hari warga Asia Tenggara, kami memproyeksi layanan ini setidaknya akan menyentuh US$30 miliar pada 2025,” terang laporan tersebut.

Dari sisi negara, ekonomi digital Indonesia diyakini dapat tumbuh hingga US$100 miliar pada 2025. Porsi transaksi ekonomi digital Indonesia mencakup US$4 dari tiap transaksi sebesar US$10 yang terjadi di Asia Tenggara.

Tokopedia dan Go-Jek adalah 2 dari 4 unicorn asal Indonesia, bersama Bukalapak dan Traveloka. Sementara itu, e-Marketer memprediksi pengguna aktif smartphone di Indonesia bertambah dari 55 juta orang pada 2015 menjadi 100 juta orang pada 2018.

Berdasarkan data We Are Social per 2018, penetrasi internet di Indonesia mencapai 50%, sedikit di bawah rata-rata global yang sebesar 53%.

Warga Indonesia rata-rata menghabiskan 8 jam 5 menit di internet, atau tertinggi keempat setelah Thailand, Filipina, dan Brasil. Tetapi, Indonesia berada di posisi ketiga negara dengan waktu rata-rata tertinggi dalam penggunaan mobile internet dengan 4 jam 17 menit.

Sumber : Reuters

Tag : ekonomi digital
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top