Produsen Alat Listrik Jaga Cashflow di Tengah Bunga Bank Tinggi

Ketua Umum Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia menuturkan di tengah kenaikan suku bunga maka pihaknya lebih mengutamakan kelancaran arus kas. \"Yang terpenting kelancaran cashflow dan upaya diversifikasi usaha karena bunga bank mayoritas tinggi,\" kata Karnadi, Rabu (21/11/2018). 
Anggara Pernando | 21 November 2018 17:44 WIB
Produsen peralatan listrik - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Para produsen alat listrik menyebutkan pemenuhan modal kerja dari perbankan tidak serta merta akan dilakukan pada akhir 2018. Modal kerja dari perbankan baru akan ditarik setelah modal internal maksimal digunakan dan terdapat produk yang sudah memiliki pasar pasti.

Karnadi Kuistono, Ketua Umum Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (Appi) menuturkan di tengah kenaikan suku bunga maka pihaknya lebih mengutamakan kelancaran arus kas. Produksi yang didahulukan adalah produk yang dapat berputar dengan cepat dengan kebutuhan tinggi.

"Yang terpenting kelancaran cashflow dan upaya diversifikasi usaha karena bunga bank mayoritas tinggi," kata Karnadi, Rabu (21/11/2018). 

Menurut Karnadi, produsen akan berfokus pada efisiensi termasuk optimalisasi modal sendiri. Jika sudah tidak banyak opsi yang dipilih, baru modal kerja dari bank akan ditarik. Apalagi dengan kondisi tren bunga yang terus naik, fokus perusahaan adalah dapat bertahan.

Irianto Sunardi, Direktur Keuangan PT PAL menuturkan pihaknya mengandalkan bahan baku dari suplier untuk pemenuhan bahan baku hingga modal kerja. 

Irianto menyebutkan pihaknya belum pernah menggunakan plafond maksimal dari suplier. PAL merupakan badan usaha negara yang berfokus membuat dan merawat kapal. Baik kapal perang maupun kapal niaga.

"Untuk perbankan nasional, PAL sementara belum dapat fasilitas direct loan karena masih dalam status restrukturisasi atas kredit kredit masa lalu," katanya. 

Budiman Saleh, Direktur Utama PAL menyebutkan pihaknya memiliki fasilitas modal kerja dari Korea Selatan sebesar US$250 juta. Selain itu terdapat jaminan asuransi dalam negeri sebesar Rp3 triliun yang menopang optimalisasi bisnis PAL. "Untuk modal kerja kita sudah secured available dari waktu ke waktu," katanya.

Tag : industri
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top