Industri CPO dan Karet Kian Hadapi Masa Kelam, Ini Penyebabnya

Industri minyak kelapa sawit dan karet terancam semakin sulit memberikan kontribusi lebih bagi pendapatan negara lantaran terus tertekan tren penurunan harga internasional dan pelemahan permintaan ekspor.
Yustinus Andri DP | 23 November 2018 14:21 WIB
Dua orang petani meninjau perkebunan sawit milik mereka yang sudah berumur tua untuk mengikuti program 'replanting' di Desa Kota Tengah, Dolok Masihul, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Senin (27/11). Program replanting atau peremajaan sawit rakyat ini menjadi bukti dukungan pemerintah terhadap sektor kelapa sawit yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian petani sawit. ANTARA FOTO - Septianda Perdana

Bisnis.com, JAKARTA — Industri minyak kelapa sawit dan karet terancam semakin sulit memberikan kontribusi lebih bagi pendapatan negara lantaran terus tertekan tren penurunan harga internasional dan pelemahan permintaan ekspor.

Padahal, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) serta karet dan barang dari karet termasuk dalam daftar 10 komoditas ekspor utama menurut catatan Kementerian Perdagangan. 

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak April 2019 per Kamis (22/11) di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), berada di level 154,70 yen/kg. Angka tersebut turun dari harga tertinggi pada tahun ini yang mencapai 199,96 yen/kg pada Februari 2018, dan anjlok dari Januari 2017 yang sempat  menembus 295,44 yen/kg.

Di sisi lain, berdasarkan data Bursa Derivatif Malaysia (MDEX), harga CPO utuk kontrak Februari pada Kamis (22/11/2018) mencapai 1.686 ringgit/ton atau berada di level terendahnya pada tahun ini.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah mengatakan, tren penurunan harga CPO dan karet global berisiko menghambat pertumbuhan serta mengurangi serapan tenaga kerja di kedua sektor industri perkebunan tersebut. 

Menurutnya, risiko tersebut bisa berdampak langsung pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan karena berkaitan dengan meningkatnya angka pengangguran dan berkurangnya kontribusi industri karet dan CPO sebagai sektor strategis penopang ekspor.

“Pemutusan hubungan kerja [PHK] dan deindustrialisasi [sektor sawit dan karet] mungkin masih belum terjadi dalam waktu dekat. Namun, fenomena itu sangat mungkin terjadi,” tuturnya, Kamis (22/11/2018).   

Wakil Ketua Umum Bidang Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Antonius J. Supit mengatakan, tren negatif di sektor karet dan CPO praktis akan berdampak pada serapan tenaga kerja industri itu. Salah satu yang paling terpengaruh adalah industri hulu yang berkaitan dengan petani dan buruh tani.

“Untuk karet, pemilik lahan akan menahan aktivitas pertaniannya karena mereka kehilangan gairah. Otomatis buruh taninya akan kehilangan pekerjaan. Begitu pula di hilir, industrinya akan melambat, sehingga pilihan ‘merumahkan’ pegawai bisa jadi salah satu solusi,” katanya.

Anton menjelaskan, hal serupa juga berpeluang terjadi di sektor CPO, yang mengalami kelebihan produksi. Petani akan mengalami kerugian akibat produk mereka tak lagi laku di pasar. Untuk itu, dia menilai program mandatori biodiesel B20 harus berjalan secara maksimal demi mengurangi potensi deindustrialisasi di sektor tersebut.

TERUS LESU

Saat dihubungi terpisah, Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane mengatakan, industri karet dan produk karet saat ini tak kunjung keluar dari kelesuan.

Menurutnya, di tengah tren pelemahan ekspor dan tekanan harga global yang tak kunjung membaik, banyak petani perkebunan karet yang memilih menebang pohon karetnya.

“Mereka beralih menanam bawang dan produk perkebunan lain. Sebab, produk yang mereka jual tidak lagi menarik dari sisi bisnis, efeknya tentu menjalar ke industri hilir. Pasokan bisa-bisa terus turun,” ujarnya.

Akibatnya, sebut Azis, ancaman PHK  di sektor perkebunan karet bisa menjadi kenyataan. Di lini hulu, PHK akan terjadi pada buruh tani seperti para penderes. Sementara itu, di sektor hilir, PHK akan terjadi pada industri-industri strategis seperti pabrik ban, vulkanisir serta produk lain seperti karet aspal dan dock fender.

Padahal, menurut data Dekarindo, jumlah pekerja Indonesia yang bergelut di sektor karet dan produk karet mencapai puluhan juta orang. Di lini hulu, pemilik lahan perkebunan karet mencapai 12 juta orang, sedangkan buruh tani seperti penderes getah karet mencapai 18 juta orang. Jumlah tersebut belum termasuk pekerja pabrik ban yang mencapai 60.000 orang dan industri vulkanisir sebanyak 100.000 orang.

“Bisa dibayangkan berapa orang bergantung di komoditas ini. Maka dari itu, saya berharap, pemerintah bantu buka dan tarik investasi industri kimia untuk campuran karet mentah supaya karet mentah kita bisa diolah menjadi produk bernilai tambah,” ujarnya.

Azis mengklaim, langkah tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap ekspor karet mentah. Terlebih, saat ini negara eksportir karet mentah pesaing Indonesia terus bertambah.

Selain Vietnam dan Kamboja, sebutnya, Pantai Gading pun muncul sebagai eksportir karet mentah baru. Dia menyebutkan, negara Afrika Barat tersebut bahkan telah memiliki jalur perdagangan dan kontrak kerja sama khusus dengan industri karet di China, yang selama ini menjadi pasar utama ekspor karet Indonesia.

Senada, Ketua bidang Ketenagakerjaan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumarjono Saragih menyebutkan, ancaman PHK di sektor industri sawit telah di depan mata. Saat ini, indikasi pengurangan aktivitas pekerjaan terkait dengan CPO telah terjadi di sektor hulu.

“Kelebihan pasokan CPO membuat anyak petani atau pemilik kebun menunda penanaman sawit. Mereka juga mengurangi aktivitas perawatan tanamannya, yang secara otomatis membuat buruh di sektor itu berhenti bekerja sementara.”

Menurutnya, jika tren harga CPO tak kunjung membaik dan ekspor di sejumlah negara terus terhambat, bukan tidak mungkin akan terjadi gelombang PHK massal di sektor perkebunan sawit.

Padahal, menurut data Gapki, jumlah pekerja yang menggantungkan hidupnya di industri CPO dan produk turunannya mencapai 17,5 juta orang. Adapun, porsi terbesar ada di lini hulu atau perkebunan yang jumlahnya mencapai 10 juta orang.

“PHK memang bukan solusi yang baik. Namun, jika kondisi memaksa maka jalan itu akan diambil. Akibatnya, industri CPO bisa mengalami sunset, baik hulu maupun hilir, karena otomatis akan banyak pengusaha yang bangkrut, akhirnya bisa disebut deindustrialisasi,” jelasnya.

Untuk itu, dia meminta agar pemerintah dan pelaku usaha meningkatkan perlawanannya terhadap kampanye negatif CPO. Pemerintah juga diharapkan untuk konsisten mengawal penerapan mandatori biodiesel B20 tahun ini yang akan dilanjutkan dengan B30 pada tahun depan.

 

Tren Ekspor Produk CPO dan Karet (miliar US$)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Komoditas                              2013    2014    2015    2016    2017    Jan—Okt 2018

------------------------------------------------------------------------------------------------------

CPO                                        19,22   21,05   18,65   18,23   22,96   17,10                          

Karet dan barang dari karet    9,39     7,10     5,91     5,66     7,74     5,45                            

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber: BPS, 2018

 

Tren Ekspor CPO ke 5 Negara Tujuan Utama (miliar US$)

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

                                    India   China  Pakistan         Spanyol          Bangladesh   

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Januari—Juni 2017  2,52     0,80     0,71                 0,50                 0,39

Januari—Juni 2018  1,49     0,94     0,68                 0,40                 0,47

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Tren Ekspor Karet ke 5 Negara Tujuan Utama (miliar US$)

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

                                    AS       China  Jepang                        India   Korsel

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Januari—Juni 2017  1,02     0,66     0,54                 0,21     0,17

Januari—Juni 2018  0,81     0,31     0,44                 0,22     0,13

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber: Kemendag, 2018

Tag : cpo
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top