Perhutani Yakin Relaksasi DNI Bisa Kerek Industri Kayu

Badan Usaha Milik Negara Perum Perhutani menilai relaksasi Daftar Negatif Investasi pada sektor kehutanan bisa mendorong permintaan kayu asal Indonesia.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 23 November 2018 00:46 WIB
Seseorang melintasi tumpukan kayu. - Bisnis.com
Bisnis.com, JAKARTA – Badan Usaha Milik Negara Perum Perhutani menilai relaksasi Daftar Negatif Investasi pada sektor kehutanan bisa mendorong kinerja industri kayu dan produk kayu.
Corporate Secretary Perhutani, Asep Rusnandar menyatakan Paket Kebijakan Ekonomi XVI diharapkan bisa memberi dampak semakin tingginya insentif bagi para investor. Sehingga, ke depannya diharapkan industri kehutanan akan semakin meningkat baik dari segi volume maupun teknologi.
“Era perdagangan bebas memang sudah menjadi kesepakatan negara-negara di dunia sehingga diharapkan persaingan sehat dan produktivitas akan semakin meningkat,” terang Asep kepada Bisnis, Kamis (22/11/2018).
Dia berpendapat, Perhutani sebagai salah satu pelaku usaha kehutanan terutama untuk produk kayu dan non kayu bisa mendorong arus modal untuk masuk ke Indonesia. Tentunya kondisi ini akan membangkitkan industri kehutanan dan memberi nilai tambah.
Asep menyebut bahwa Perhutani menghasilkan log kayu setiap tahun sekitar 900.000 meter kubik, dengan rincian kayu jati 500.000 meter kubik, dan rimba 400.000 meter kubik. Ada pula hasil hutan kayu berupa getah pinus 90.000 tom per tahun.
“Untuk kayu log yang diserap industri kayu hanya sekitar 10-15% sisanya dijual berupa log dan dapat menggerakkan roda perekonomian industri kehutanan swasta,” sambung Asep.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan relaksasi DNI adalah bagian dari Paket Kebijakan Ekonomi XVI yang berupaya mendorong sektor unggulan. Darmin menilai, banyak pihak masih menilai kebijakan ini terlalu menguntungkan bagi investor asing.
Bisnis mencatat, sejumlah produk sektor kehutanan yang menerima relaksasi DNI sampai 100% antara lain; industri kayu gergajian dengan kapasitas di atas 2.000 meter kubik, pengusahaan pariwisata alam, industri kayu lapis, industri kayu LVL, industri serpih kayu, dan industri kayu pellet.
Tag : kayu, perhutani
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top