Produksi Baja Global Naik 7,6%, Pengusaha Lokal Harus Kerek Daya Saing

Peningkatan produksi baja secara global, khususnya di sejumlah negara, menjadi tantangan bagi pelaku industri dalam negeri untuk meningkatkan daya saing, terutama dalam menghadapi potensi aliran impor yang semakin deras.
Wibi Pangestu Pratama | 25 November 2018 19:56 WIB
Pekerja mengelas kawat tiang pondasi proyek double-double track (DDT) atau rel ganda Paket A Manggarai-Jatinegara, Jakarta, Jumat (21/). - Antara/Angga Budhiyanto

Bisnis.com, JAKARTA — Peningkatan produksi baja secara global, khususnya di sejumlah negara, menjadi tantangan bagi pelaku industri dalam negeri untuk meningkatkan daya saing, terutama dalam menghadapi potensi aliran impor yang semakin deras.

Menurut data World Steel Association, produksi baja mentah (crude steel) di kawasan Asia tumbuh 7,6% menjadi 110 juta ton pada Oktober 2018 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 102 juta ton.

China sebagai produsen terbesar di kawasan Asia mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 9,1% secara tahunan menjadi 82,5 juta ton pada bulan lalu dari 75,6 juta ton pada bulan yang sama tahun lalu.

Jepang mencatatkan penurunan produksi 4,5% menjadi 8,7 juta ton pada bulan lalu dibandingkan dengan capaian pada Oktober 2017 sebanyak 8,9 juta ton baja mentah. Selain Jepang, Thailand pun mencatatkan penurunan sebesar 4,5% secara tahunan.

Peningkatan produksi baja signifikan terjadi di Vietnam, yaitu sebesar 123,3% menjadi 1,67 juta ton pada Oktober 2018 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 750.000 ton.

Asosiasi Industri Besi dan Baja menilai proteksi industri dalam negeri dan perluasan koneksi kerja sama perlu dilakukan bersamaan untuk menguatkan daya saing industri baja di pasar global.

Anggota Komite Teknis Asosiasi Industri Besi dan Baja (IISA) Bimakarsa Wijaya menjelaskan bahwa daya saing industri baja dapat ditingkatkan dengan melakukan proteksi terhadap industri dalam negeri.

“Koneksi juga perlu diperluas. Keduanya perlu dilakukan secara bersamaan dan berkelanjutan. Kerja sama saja tanpa dibarengi proteksi adalah mustahil, begitu pun bila sebaliknya, tidak akan berkelanjutan,” ujar Bimakarsa pada Minggu (25/11).

Dia mencontohkan, kerja sama investasi produsen baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. dengan Posco, perusahaan asal Korea Selatan, tidak serta merta menurunkan impor baja dari negara tersebut.

Impor baja hot rolled coil (HRC) dari Korsel terus bertambah sehingga proteksi tetap diperlukan. Bimakarsa menilai pemerintah harus hadir untuk memastikan skema kerja sama business to business terjadi di tengah kondisi industri di Asia yang terus berkembang.

“Jika negara maju saja melakukan proteksi, Indonesia pun seharusnya melakukan hal tersebut.”

Tag : industri baja
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top