Ada Festival Geopark di Bojonegoro, Ini Hari Terakhir

Objek wisata Teksas Wonocolo di Kecamatan Kedewan, Bojonegoro disebut sebagai usaha konservasi objek wisata Geopark Nasional.Guna menarik kunjungan wisatawan, Festival Geopark Bojonegoro digelar berlangsung sejak 22-25 November 2018.
Anitana Widya Puspa | 25 November 2018 06:26 WIB
Wisata sumur tua di Wonocolo - Yiutube

Bisnis.com, JAKARTA - Objek wisata Teksas Wonocolo di Kecamatan Kedewan, Bojonegoro disebut sebagai usaha konservasi objek wisata Geopark Nasional. Guna menarik kunjungan wisatawan, Festival Geopark Bojonegoro digelar berlangsung sejak 22-25 November 2018.

Geosite Wonocolo ini dikembangkan menjadi Wisata Geologi Sumur Tua Wonocolo yang merupakan energi tidak terbarukan. Kini, lokasi tersebut dikenal dengan sebutan Teksas Wonocolo, selain karena kondisi lingkungannya yang mirip dengan lokasi minyak Texas di Amerika, Teksas sendiri merupakan singkatan dari Tekad Selalu Aman dan Sejahtera. Teksas Wonocolo kini menjadi lokasi wisata edukasi di Bojonegoro. Terdapat Rumah Singgah yang menjadi learning center tentang minyak dan cara eksploitasi di Wonocolo.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro Amir Sahid memgatakan festival tersebut digelar setelah kawasan geopark Bojonegoro resmi memperoleh sertifikat geopark nasional sebagai kawasan cagar alam geologi dari Badan Geologi, Kementerian ESDM pada 2017 lalu. Dengan areal seluas 23 kilometer persegi dan dihuni 1400 jiwa, kawasan geopark Bojonegoro menjanjikan wisata alam khususnya berupa hamparan minyak yang menyatu dengan kebudayaan setempat.

Selain hamparan minyak, masih ada destinasi wisata yang juga tersebar di kawasan geopark Bojonegoro. Di antaranya, struktur \"Antiklin\" Kawengan bagian puncak antiklin, bagian sayap kanan dan sebagian sayap kiri, semuanya di Kecamatan Kedewan. Geopark lainnya adalah Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Dung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, dan lokasi temuan fosil gigi hiu purba di Desa Jono, Kecamatan Temayang.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan SDM dan Kelembagaan Pariwisata dan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Dyah Enggar Rinimukti menambahkan, selain banyak dikunjungi wisatawan, selama ini kawasan Geopark Bojonegoro juga kerap dijadikan sebagai laboratorium alam oleh perguruan tinggi dengan belajar langsung di sana.

Kunjungan dari perguruan tinggi seperti ITB, ITS, dan lainnya itu biasanya akan terkonsentrasi di kawasan hamparan minyak. Di kawasan ini, terdapat sejumlah titik yang kerap dikunjungi seperti pertambangan minyak yang telah dikelola selama 110 tahun, dan keunikan geologi yang berada di Geopark Bojonegoro adalah batuan Reservoar penghasil minyak bumi pada kedalaman rata-rata +100 meter dibawah permukaan tanah (kedalaman reservoir berada diatas permukaan air laut).

Ini membuktikan bahwa minyak bumi di Wonocolo merupakan reservoir terdangkal di Indonesia bahkan dunia. Di sini, terdapat 700 sumur minyak yang 200 sumur di antaranya ditambang secara tradisional.

Diuraikan Enggar, kawasan yang berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat kota Bojonegoro ini dari tahun ke tahun telah mengalami peningkatan jumlah wisatawan. Pada tahun 2017 dikunjungi sebanyak 5.719 wisatawan, sementara pada 2018 melonjak hingga 200 persen dengan total sebanyak 16 ribu lebih wisatawan.

Dalam upaya mengantisipasi lonjakan wisatawan tersebut, Pemkab Bojonegoro juga terus meningkatkan akses maupun layanan di lokasi wisata. Direncanakan, pembenahan infrastruktur akan rampung pada 2019 mendatang, termasuk menyiapkan layanan pendukung seperti homestay bagi wisatawan. Terpenting lagi, pemuda setempat yang tergabung dalam Karang Taruna akan dilibatkan sebagai pemandu wisata geopark atau geopark guide.

Setelah sukses meraih Geopark Nasional, Pemkab Bojonegoro menargetkan status Geopark Internasional yang diterbitkan Badan PBB, UNESCO akan bisa diraih pada tahun depan.

Tag : global geopark
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top