Tak Bisa Bergantung Iklan, Bagaimana Nasib Media Cetak di Era Disrupsi?

Masuknya era disrupsi di dunia bisnis menghadirkan tantangan dan sudut pandang baru bagi pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya.
Iim Fathimah Timorria | 28 November 2018 20:35 WIB
Vice President Strategy & Business Development PT Digital Indonesia Raya Nicole Yap (kanan) bersama Head of Startup Relations Alyssa Maharani membaca koran saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia, di Jakarta, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Masuknya era disrupsi di dunia bisnis menghadirkan tantangan dan sudut pandang baru bagi pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya. Contohnya terlihat pada perkembangan teknologi dan informasi yang merubah secara fundamental tatanan berusaha.

Bagi industri media cetak misal, para pelaku bisnis tidak bisa hanya mengandalkan keuntungan dari penjualan sirkulasi dan iklan di tengah oplah yang terus menurun.

Riset Nielsen Indonesia memperlihatkan bahwa belanja iklan media konvensional pada 2017 memang menunjukkan tren peningkatan 8% dengan nilai Rp145,5 triliun. Namun, kondisi tersebut ditopang dengan belanja iklan di media televisi yang mencapai 80% dari total belanja.

Berbanding terbalik dengan belanja iklan media cetak yang justru menunjukkan tren penurunan.

Hal ini terlihat dari data belanja iklan koran yang turun 3% dibanding 2016 menjadi Rp28,5 triliun. Demikian pula belanja iklan majalah dan tabloid susut 31% menjadi Rp 1,1 triliun.

Berkurangnya media cetak yang beroperasi menjadi alasan penurunan tersebut, selain itu para pengiklan mulai beralih ke media yang lebih fleksibel, iklan daring salah satunya.

Dilansir dari Bisnis sebelumnya, Corporate Communication ManagerGrowinc Group Indonesia Dyama Khazim Setyadi menuturkan, prospek belanja iklan di media daring ke depan akan tumbuh. HAl ini terlihat dari tren belanja iklan digital sejak 3—5 tahun terakhir yang mengalami peningkatan.

"Terlebih, iklan lewat media digital bisa dilakukan dengan biaya minim, dan bahkan, banyak individu maupun pelaku UKM yang mulai beriklan," katanya.

Pengamat Periklanan Muhammad Jaiz juga menilai akan terjadi perubahan belanja iklan ke arah digital. Tren itu dipicu masifnya pengguna media sosial dan internet, sehingga pengiklan ramai-ramai berpindah ke media daring atau digital

Lantas, bagaimana bisnis media cetak mempertahankan eksistensi di tengah disrupsi ini?

Presiden Direktur Bisnis Indonesia Group, Lulu Terianto, mengungkapkan kendati senja kala media cetak berada di depan mata, bisnis koran tetap memiliki peluang untuk terus berlanjut karena memiliki segmen pembaca yang setia.

"Oplah memang menurun, tetapi berita koran memiliki keunggulan dari segi kualitas dibanding berita daring, itu yang harus dijaga" kata Lulu di Jakarta dalam diskusi Media Industry Outlook 2019 pada Rabu (27/11/2018).

Perkembangan teknologi, sambung Lulu, juga menjadi pendorong bagi media cetak untuk terus berinovasi. Salah satu solusi yang diambil adalah digitalisasi koran dalam bentuk e-paper guna menjangkau pembaca yang lebih luas. Selain melakukan langkah digitalisasi, pebisnis media juga dapat memanfaatkan peningkatan akses berita daring sebagai peluang iklan.

Meski kekhawatiran media cetak dapat diselesaikan melalui digitalisasi dan optimalisasi iklan daring, Jemy V. Confindo, CEO Blanja.com menilai bahkan media daring pun menghadapi tantangan dari kehadiran influencer yang memanfaatkan media sosial untuk mendulang untung dari iklan.

"Bisnis seperti media pemberitaan pun harus tetap menjaga core (inti) bisnisnya, mencoba mengejar keuntungan iklan tidak akan mudah karena para influencer di media sosial tersebut lebih spesifik," kata Jemy.

Tag : media cetak
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top