UGM Kini Punya Laboratorium Virtual Reality dan Augmented Reality

Sebelum UGM, Honeywell juga mengembangkan laboratorium di Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung.
Duwi Setiya Ariyanti | 28 November 2018 16:57 WIB
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mencoba perangkat VR yang disediakan Honeywell di laboratorium di UGM pada Rabu (28/11/2018) - Honeywell

Bisnis.com, YOGYAKARTA — Honeywell menghadirkan laboratorium berteknologi augmented reality/virtual reality (AR/VR) di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada untuk mempermudah aktivitas menggunakan simulasi dan pembuatan model.

Manager Corporate Communications Honeywell Indonesia Anton Susanto mengatakan, laboratorium tersebut memfasilitasi mahasiswa melakukan percobaan. Sebagai contoh, dalam lab didemonstrasikan proses perakitan komponen mesin.

Kegiatan itu ditunjang perangkat lunak Experion PKS Orion serta perangkat AR/VR untuk mempelajari beragam aktivitas industri yang rumit melalui simulasi, seperti belajar mengoperasikan alat di area dengan situasi berisiko tinggi.

Tujuannya, agar mahasiswa yang lulus memiliki kemampuan sesuai kebutuhan industri. Pasalnya, dia menyebut pihaknya perlu merintis sumber daya manusia (SDM) berkualitas untuk memastikan keberlangsungan bisnis.

Laboratorium ini diresmikan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dan Rektor Universitas Gadjah Mada, Panut Mulyono.

"Kami butuh SDM yang qualified. Jadi kami tunjang dengan laboratorium ini," ujarnya usai acara peresmian di Fakultas Teknik UGM, Rabu (28/11/2018).

Adapun, sebelum UGM, laboratorium yang juga dikembangkan di Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung.

Di ITB, laboratorium yang diresmikan pada Desember 2016, dilengkapi dengan teknologi Honeywell Processing Solutions serta fasilitas penyulingan untuk minyak bumi dan produk kimia lainnya.

Kemudian, di UI, pada Maret 2018 telah diresmikan laboratorium yang ditunjang dengan teknologi Honeywell Building Solutions. Di dalamnya, terdapat sistem otomatisasi dan manajemen gedung, dengan kemampuan layanan terhubung berbasis komputasi awan, teknologi pintar dengan visualisasi, antarmuka intuitif, serta sistem pengendalian api dan keamanan yang terintegrasi.

Ketiga laboratorium ini terhubung sehingga memungkinkan kolaborasi antarkampus. Tidak menutup kemungkinan, katanya, padatahun berikutnya pusat riset dan pengembangan akan dibangun di Indonesia.

"Kami terus mencari mitra-mitra untuk pengembangan. Bahkan untuk pembangunan pusat R&D," katanya.

Tag : teknologi, pendidikan
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top