3 Perusahaan Asing Berpotensi Jadi Mitra PJB untuk PLTS Terapung Cirata

PT PLN (Persero) menargetkan beauty contest pemilihan calon mitra untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata di Jawa Barat (Jabar), rampung pada kuartal I/2019.
Denis Riantiza Meilanova | 30 November 2018 15:35 WIB
Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- PT PLN (Persero) menargetkan beauty contest pemilihan calon mitra untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata di Jawa Barat (Jabar), rampung pada kuartal I/2019.
 
Direktur Pengadaan Strategis PLN Supangkat Iwan Santoso mengungkapkan setidaknya sudah ada tiga perusahaan asing yang berpotensi untuk menjadi mitra anak usaha PLN, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), dalam pengembangan PLTS yang akan dibangun di atas Waduk Cirata tersebut.  Proses pemilihan mitra dilakukan oleh PJB.
 
"Belum boleh dibuka.  Tapi kami membuka peluang.  Ada lah ada, bagus-bagus yang kelas dunia," ujarnya, Kamis (29/11/2018) malam.
 
Iwan memberikan bocoran perusahaan yang berminat menjadi mitra PJB tersebut di antaranya berasal dari Korea Selatan (Korsel), China, serta Uni Emirat Arab (UEA) yakni Masdar.
 
Awalnya, Masdar menjadi calon tunggal mitra PJB pada proyek PLTS terapung pertama di Indonesia itu melalui penunjukkan langsung.  Penunjukkan Masdar sebagai mitra PJB merupakan bagian dari kesepakatan Government-to-Government (G2G) antara Pemerintah Indonesia dan UEA.
 
Kesepakatan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan ditandatanganinya PJB project development agreement PLTS Terapung Cirata antara PJB dengan Masdar.  Dengan kerja sama tersebut, direncanakan keduanya akan bermitra membentuk perusahaan patungan dengan porsi saham mayoritas oleh PJB sebesar 51% dan porsi Masdar 49%.
 
Namun, untuk menghindari timbulnya persoalan hukum di kemudian hari, PLN memutuskan agar pemilihan mitra tidak dilakukan melalui mekanisme penunjukkan langsung tetapi dengan beauty contest.  
 
Di sisi lain, Iwan menerangkan dipilihnya mekanisme beauty contest tidak lain untuk mencari harga tarif jual beli listrik yang kompetitif.  
 
"Supaya persaingannya baik, supaya kompetitif harganya," jelasnya.
 
Dengan adanya perubahan ini, maka penandatangan kontrak jual beli atau Power Purchase Agreement (PPA) proyek tersebut akan kembali mundur.  Semula tanda tangan PPA ditargetkan dapat dilakukan tahun ini.
 
Sebelumnya, Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara PLN Djoko Rahardjo Abumanan mengungkapkan pihaknya sedang mengevaluasi pemilihan mitra untuk proyek PLTS Cirata.  
 
"Sekarang sedang proses memilih mana yang lebih baik [mitra].  Enggak bisa main tunjuk lalu ambil.  Harus beauty contest," tuturnya kepada Bisnis.
 
Dalam proses pemilihan ini, sebut Djoko, Masdar yang menjadi calon sebelumnya tetap berpotensi menjadi mitra bila penawaran yang diberikan lebih bagus dibandingkan calon lainnya.
 
PLTS terapung itu rencananya dibangun dengan kapasitas total 200 megawatt (MW).  Nilai investasi proyeknya mencapai sekitar US$300 juta.  
 
PLN menginginkan agar harga listrik dari pembangkit energi terbarukan itu bisa di bawah Biaya Pokok Penyediaan (BPP) wilayah setempat.
 
Tarif PLTS telah diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Energi Terbarukan untuk Pembangkit Listrik. Saat ini, BPP Pembangkitan Jawa Barat dipatok sebesar US$6,81 sen per kWh.

Oleh karena itu, berdasarkan beleid tersebut, harga jual listrik dari PLTS ini tidak boleh lebih dari US$6,81 sen per kWh.
 

Tag : PLN, plts
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top