AWS ReInvent 2018: Amazon Panaskan Persaingan Bisnis Kecerdasan Buatan

Kompetisi industri teknologi kecerdasan buatan kian sengit bersamaan dengan peluncuran belasan fitur baru dari Amazon Web Services, Inc. secara serentak pada hari ketiga konvensi AWS: reInvent 2018 di Las Vegas, Nevada.
Wike Dita Herlinda | 30 November 2018 16:14 WIB
Suasana Hall A The Venetian, Las Vegas saat pemaparan keynote CEO Amazon Web Services (AWS) Andy Jassy, Rabu (28/11 - 2018) waktu setempat. / foto: AWS

Bisnis.com,  LAS VEGAS — Kompetisi industri teknologi kecerdasan buatan kian sengit bersamaan dengan peluncuran belasan fitur baru dari Amazon Web Services, Inc. secara serentak pada hari ketiga konvensi AWS: reInvent 2018 di Las Vegas, Nevada.

Anak usaha Amazon.com, Corp. yang bergerak di lini komputasi awan itu membombardir kompetitornya dengan memperkenalkan tak kurang dari 15 jasa dan produk penunjang  artificial intelligence (AI)  serta logaritma pembelajaran mesin (machine learning/ML). 

Selama ini, AWS sudah terlebih dahulu terkenal dengan fitur AI berbasis interaksi suara, yaitu Alexa. Namun, layar inovasi teknologi mereka kian dikembangkan untuk menjangkau calon pengguna dari berbagai latar belakang, kemampuan, dan pengalaman. 

Perkenalan belasan fitur baru AWS tersebut sekaligus merupakan tindak lanjut dari peluncuran fitur pengelola algoritma ML, Amazon SageMaker, pada tahun lalu. (Lihat grafis)

Tak hanya itu, peluncuran produk/jasa baru AWS tersebut menjadi tabuhan genderang perang di medan kompetisi bisnis komputasi awan antara raksasa teknologi Amerika Serikat, termasuk Google, IBM, dan Microsoft.

Apalagi, belum lama ini Google juga meluncurkan fitur akselerasi AI-nya sendiri yaitu TensorFlow Processor Units (TPU). Microsoft pun tak ketinggalan menggandeng Xilinx guna memperkenalkan FPGAs untuk menunjang layanan komputasi awan mereka, Azure. 

CEO AWS Andy Jassy dengan lantang mengklaim tidak gentar menghadapi persaingan melawan kompetitor besarnya di Barat (Google dan Microsoft) serta di Timur (Alibaba). Pasalnya, dia menegaskan bahwa korporasinya tidak berorientasi pada kompetisi tetapi pada konsumen.  

“Per kuartal III/2018, pendapatan berjalan kami sudah menembus US$27 miliar naik 46% secara year on year. Persentase tersebut setara dengan kenaikan pendapatan senilai US$2,1 miliar," tutur CEO lulusan Harvard College dan Harvard Business School itu, Rabu (28/11/2018) waktu setempat. 

Dibandingkan dengan kompetitor, lanjutnya, pengguna platform komputasi awan AWS mendominasi 51,80% dari total pangsa pasar global. Cakupan tersebut adalah yang tertinggi di dunia, mengalahkan Microsoft (13,30%) dan Alibaba (4,60%).

Lebih lanjut, Andy memaparkan bahwa peluncuran jasa serta produk baru pada tahun ini merupakan jawaban atas permintaan klien AWS—yang didominasi oleh praktisi ahli serta peneliti—akan adanya infrastruktur AI yang lebih mudah dioperasikan dan hemat biaya.

Menurutnya, masing-masing fitur pengembangan AI yang baru diluncurkan tersebut memiliki fungsi dan tujuan yang sangat spesifik guna menyesuaikan kebutuhan pengguna. Misalnya saja, untuk digitalisasi data kesehatan yang selama ini masih berupa dokumen kertas. 

“Kita harus punya alat yang tepat untuk menyelesaikan tugas yang tepat. Ini akan membantu para pengguna untuk menghemat uang dan waktu. Kita tidak bisa lagi menggunakan hanya satu platform [AI] untuk mengerjakan banyak hal," ujarnya.   

CIO Guardian Life Insurance Dean Del Vecchio mengaku perusahaan asuransi jiwa dengan aset US$71,5 miliar itu tidak bisa lagi menggantungkan pengelolaan datanya pada cara lama. Menurutnya, perusahaan harus berani berinvestasi di teknologi untuk skilling dan upskilling.

Dia menjelaskan, korporasinya membutuhkan waktu setahun untuk migrasi ke sistem data lama menuju ke komputasi awan berbasis AI. Sebab, menurutnya, mengelola data via dokumen sangat menguras tenaga, waktu, dan biaya. 

“Akhirnya, per 11 Mei 2018, kami benar-benar pindah ke awan. Saya rasa, akan ada semakin banyak perusahaan yang juga melakukan migrasi."

Sementara itu, Managing Director Formula One Ross Brawn menambahkan, fitur AI yang spesifik sangat dibutuhkan oleh industri olah raga yang membutuhkan ketelitian dan kecepatan tingkat tinggi seperti F1.

“Kami menggunakan AI untuk memprediksi performa kendaraan demi menghemat waktu."

RAGU-RAGU

Bagaimanapun, harus diakui masih banyak perusahaan yang ragu-ragu untuk bermigrasi ke komputasi awan. Kegamangan itu paling banyak dirasakan di negara berkembang. Padahal, mereka sudah mengetahui konsekuensi dari penyimpanan data via dokumen. 

Menurut CEO VMware Pat Gelsinger, di luar Amerika Serikat, tren migrasi perusahaan ke komputasi awan masih berjalan lambat. Di Asia, misalnya, fenomena tersebut banyak dijumpai justru di pasar-pasar raksasa seperti China, India, dan Asia Tenggara. 

“Kami sedang mencari cara yang tepat agar orang paham apa manfaat menggunakan data," ujarnya.

Khusus untuk di Indonesia, Head of Business Development APAC AWS Conor McNamara mengatakan prospek untuk penggunaan data di Tanah Air sebenarnya sangat besar. Terlebih, industri dagang-el RI adalah salah satu yang paling pesat pertumbuhannya di Asia Tenggara.

Dia pun melihat pertumbuhan bisnis rintisan (startup) di Indonesia sebagai ceruk pasar yang menggiurkan bagi pengembangan bisnis AWS di Asia Pasifik. Sayangnya, dia enggan mengelaborasi kabar rencana investasi AWS senilai Rp14 triliun untuk 1 dekade ke depan di Indonesia.

Mau tidak mau, Indonesia harus segera menyongsong era migrasi ke awan. Namun, kita harus berhati-hati juga, jangan sampai potensi pasar RI yang besar justru semata-mata dijadikan ladang uang bagi taipan teknologi global yang kini sedang seru-serunya bersaing di lini bisnis big data

Berikut kategori fitur-fitur baru AWS tersebut:
 
AI dengan Kapabilitas Tingkat Tinggi
1. AWS Comprehend Medical. Dirancang spesifik bagi industri kesehatan untuk kepentingan penyimpanan dan pengelolaan data kesehatan dari segala macam dokumen. 
2. Amazon Personalize. Teknologi AI ini dibangun berdasarkan pengalaman selama bertahun-tahun dalam mengembangkan Amazon.com. Fitur ini digunakan untuk personalisasi proses algoritma machine learning (ML).
3. Amazon Forecast. Fitur ini menggunakan algoritma ML untuk memprediksi berbagai data analitik. Alat ini bisa membantu menaikkan tingkat akurasi prediksi hingga 50% dengan penghematan biaya hingga 10%. 
4. Amazon Textract. Dirancang untuk mengekstrak teks dan data dari dokumen apapun, termasuk mendeteksi tabel, memindai informasi dari formulir, dan lain sebagainya. 
5. AWS Marketplace for ML. Fitur ini menyediakan algoritma ML dari pihak ketiga serta model yang bisa digunakan melalui platform SageMaker. Saat ini terdapat lebih dari 150 model dan algoritma ML untuk marketplace.
Fitur Infrastruktur AI
1. Amazon EC2 P3dn Instance. Ini merupakan pengembangan dari teknologi komputasi awam AWS Elastic Compute Cloud (EC2). Fitur ini dilengkapi dengan jaringan keluaran sebesar 100gbps, serta NVidia V100 GPUs, dan memori sebesar 32GB per GPU. 
2. Amazon Elastic Inference. Fitur ini secara spesifik dirancang untuk memangkas biaya penggunaan teknologi AI. Pelanggan dapat mengaplikasikan fitur ini pada EC2 dan membayar sesuai penggunaan. 
3. AWS-Optimized TensorFlow. Dirancang untuk membuat proses training dan inference lebih efisien.
4. AWS Inferentia. Cip yang didesain untuk mesin berperforma tinggi sebagai alternatif terhadap GPU. Fitur ini juga merupakan kompetitor dari TensorFlow Processor Units milik Google dan FPGAs milik Microsoft Xilinx.
5. AWS SageMaker Neo. Dirancang untuk menyederhanakan proses algoritma ML.
Akselerasi Pengembangan AI
1. Amazon SageMaker Ground Truth. Ditujukan untuk mengakselerasi dan meningkatkan pelabelan data secara akurat dan hemat biaya, serta mempermudah proses algoritma ML. 
2. Amazon SageMaker RL. Didesain untuk menyederhanakan penggunaan AI dan ML dengan tujuan spesifik.
3. AWS RoboMaker. Produk ini dirancang sebagai solusi untuk memudahkan proses pengembangan aplikasi robotik serta memperpanjang usia aplikasi robotik. 
Alat Bantu Belajar AI
1. Amazon ML University. Pelayanan yang ditujukan khusus untuk pelatihan AI dan ML. 
2. AWS DeepRacer.  Mobil otonom dengan skala 1:18 ini dirancang untuk kecepatan tinggi dengan dilengkapi kamera, prosesor, dan teknologi lainnya yang menggunakan fitur SageMaker RL.
3. Amazon ML Solutions Lab. Didesain untuk transfer pengetahuan dan pengalaman serta mendapatkan manfaat lebih dari teknologi AI dan algoritma ML.
Sumber: AWS, 2018

Tag : amazon.com
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top