Menhub: Ada Salah Persepsi Soal Lion Air LQP tak Layak Terbang  

Penyelidikan atas kecelakaan pesawat Lion Air masih berproses, belum ada penilaian final. Soal pernyataan bahwapeswat  Lion Air beregistrasi LQP tak layak, semata-mata karena salah persepsi.
Choirul Anam | 30 November 2018 19:06 WIB
Menteri Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi (kiri) bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy (tengah) dan Rektor UMM, Fauzan (kanan) di UMM, Jumat (30/11 - 2018). Foto: Istimewa

Bisnis.com, MALANG—Penyelidikan atas kecelakaan pesawat Lion Air masih berproses, belum ada penilaian final. Soal pernyataan bahwapeswat  Lion Air beregistrasi LQP tak layak, semata-mata karena salah persepsi.

Menteri  Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan dirinya  mengikuti apa yang direkomendasikan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

“Kesimpulan pertama, ternyata ada salah persepsi karena data yang ada memang tidak menyebut Lion tidak layak terbang. Kesimpulan ini dari KNKT sendiri, saya tidak menambah, tidak mengurangi,” katanya di Universitas Muhammadiyah Malang, Jumat (30/11/2018).

Yang jelas, lanjut dia, penyelidikan atas kasus kecelakaan Lion Air masih terus berlangsung. Penyelidikan masih lima bulan lagi.

Kesimpulan penyelidikan akan lebih kuat jika telah ditemukan alat perekam dalam penerbangan ini, Flight Data Recorder (FDR) atau Cockpit Data Recorder (CDR).

Untuk keperluan itu, akan digunakan kapal dari Singapura yang lebih canggih dalam mendeteksi keberadaan CDR.

“Hari ini KNKT ke Seattle untuk melihat simulasi terkait dengan kecelakaan Lion Air,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Menhub juga memaparkan pembangunan-pembangungan yang telah dilakukan Kementeriannya. Salah satunya adalah arah pembangunan yang sudah mulai mengarah ke Indonesia bagian Timur.

"Jadi jangan khawatir sekarang kalau kunjungan ke Papua sudah bisa menikmati jalan yang bagus," paparnya. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam kesempatan yang sama  memaparkan sinergitas antara dua kementerian tersebut. Salah satunya, dua kementerian ini tengah menarget membangun 20.000 sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan sampai 2019 diharapkan mencapai 40.000.

Sasaran pembangunan PAUD, di daerah yang masih belum ada fasilitas tersebut. "Program ini dijalankan bersama Kementerian Perhubungan," kata .

Rektor UMM, Fauzan, menegaskan pembangunan SDM di UMM sudah dibarengi dengan pembangunan fasilitas yang memadai untuk kemajuan setiap individu.

"Anda semua saat ini harus menyiapkan diri, mendesain diri untuk menjadi orang-orang yang kompeten dan profesional," tandas Fauzan.

Menteri Budi secara khusus menyerahkan bantuan berupa 1 buah micro bus, sedangkan Kemendikbud sebelumnya juga menyerahkan sebuah unit Mobil Bioskop ke UMM. Kedua unit kendaraan ini diperuntukkan bagi penunjang kegiatan akademik.

Tag : lion air jatuh
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top