Genjot Ekspor Patin, KKP Tambah Anggaran CPIB

Pemerintah akan menambah anggaran untuk sertifikasi cara pembenihan ikan yang baik untuk komoditas ekspor patin tahun depan.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 30 November 2018 16:48 WIB
Pekerja memilah ikan untuk dipasarkan di Pelabuhan Muara Baru, Jakarta, Selasa (30/1). - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah akan menambah anggaran untuk sertifikasi cara pembenihan ikan yang baik untuk komoditas ekspor patin tahun depan.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan pemerintah sedang mencoba meningkatkan anggaran untuk sertifikasi produk ekspor atau anggaran bagi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB), khususnya untuk produk-produk ekspor.

“Misalnya, patin, udang, lele. Kami akan fokus ke situ,” jelasnya ketika ditemui di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Jumat (30/11/2018).

Namun, belum disebutkan besaran anggarannya.

Slamet menjelaskan ada banyak masukan untuk menambah anggaran CPIB dan pemantauan mengingat semakin banyak pula komoditas ekspor perikanan dan negara tujuan ekspor. Dengan demikian, para pembudidaya patin ataupun petambak udang akan menerima bantuan dari pemerintah untuk setiap sertifikat.

“Kalau untuk CPIB ini biaya untuk orang melakukan audit sekitar Rp15 juta-Rp20 juta per sertifikasi. Per unit, satu pemilik, tergantung luasan pembudidayaan. Itu unit yang disertifikasi misalnya kolam patin, kolam lele, tambak udang,” terangnya.

Jika sertifikasi tersebut langsung mendapatkan hasil penilaian yang sangat bagus, maka sertifikasi akan berlaku selama tiga tahun. Jika penilaiannya baik, maka sertifikasi akan berlaku selama dua tahun dan nantinya bakal kembali ditinjau.

Namun, jika hanya menerima penilaian sertifikasi cukup, maka sertifikat hanya berlaku selama setahun dan setelah itu mesti kembali dilakukan peninjauan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia Azam Bachur menyampaikan dengan menutup keran impor patin dari Vietnam ke Indonesia, asosiasi akan mulai menggenjot ekspor ikan tersebut. Langkah yang akan dilakukan adalah dengan membidik lokasi ekspor baru, yakni Timur Tengah.

“Dalam 4-5 tahun ini, yang paling tinggi produksinya adalah filet patin atau dori. Pasarnya sudah 100% dikuasai oleh Indonesia dan akan kami ganti namanya menjadi Indonesian Pangasius,” ucapnya.

Sebelumnya, 80% pangsa pasar patin dunia dikuasai oleh Vietnam. Saat ini, kebutuhan patin dunia sebesar 700.000 ton.

Azam menyebut Indonesia punya peluang mengambil alih kejayaan Vietnam di pasar global hingga mencapai sekitar 570.000 ton. Selain itu, Indonesia juga sudah berhasil membuka peluang pasar di Timur Tengah, yang saat ini kebutuhannya sekitar 50.000-60.000 ton.

Sebelumnya, Ketua Shrimp Club Indonesia Iwan Sutanto mengungkapkan ada keluhan atas sejumlah hambatan yang pernah dilakukan KKP pada budidaya udang. Pasalnya, KKP pernah melakukan pemberhentian dana CPIB, sehingga pelaku usaha membutuhkan stimulus lain dalam investasi.

Dia berharap penambahan anggaran ini bisa menjawab kesulitan pelaku usaha budidaya tambak udang dalam hal permodalan.

Tag : kkp, ikan patin
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top