Pemerintah Gagal Berantas Tengkulak, Sandiaga: Harga Kopi Kian Pahit

Merajalelanya tengkulak hingga belum ada perlindungan pemerintah menjadi isu utama dalam kunjungan calon Wakil Presiden Sandiaga Salahudin Uno di Dusun Malebo Barat, Temanggung, Jawa Tengah.
Jaffry Prabu Prakoso | 01 Desember 2018 22:56 WIB
Calon Wakil Presiden Sandiaga S. Uno saat menemui petani kopi di Dusun Malebo Barat, Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (1/12/2018). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Merajalelanya tengkulak hingga belum ada perlindungan pemerintah menjadi isu utama dalam kunjungan calon Wakil Presiden Sandiaga Salahudin Uno di Dusun Malebo Barat, Temanggung, Jawa Tengah.

Hasil menyerap aspirasi di sana, petani desa mengeluhkan pengadaan pupuk. Selain itu, berkuasanya tengkulak yang memainkan harga jual kopi mentah petani.

Tidak hanya di situ, pupuk juga langka. Oleh karena persediaan kosong, koperasi yang semula didirikan untuk menyuplai kebutuhan pupuk petani justru tutup. Ujung-ujungnya petani kembali membeli pupuk dari tengkulak.

Mendengar keluhan warga, Sandi mengatakan bahwa pemerintah harus melindungi petani bukan hanya dari persediaan pupuk, tapi juga meliputi penyertaan modal usaha hingga harga jual kopi petani.

“Harga kopi saya bilang rasanya pahit seperti rasa kopinya karena mestinya harga kopi itu di pasar Rp24.000 sampai Rp28.000 sekilo. Kalau di Jakarta sudah 10 kali lipat. Jadi di tingkat petani jangan pahit, harus ada manis-manisnya. Jangan pahit kayak jamu brotowali,” katanya di lokasi sebagaimana diwartakan melalui keterangan pers, Sabtu (1/12/2018).

Mengatasi masalah ini, Sandi mengaku memiliki strategi dan solusi yang dapat diterapkan. Langkah pertama adalah pelatihan dan pendampingan sehingga kualitas produk kopi mentah hingga olahan kopi yang dihasilkan petani Desa Malebo meningkat.

“Saya ingin barista dan petani kopi mendapat pendidikan pelatihan yang baik, kalau bisa kita kirim ke eropa atau Amerika. Kedua, branding. Di sini sudah alhamdulillah. Kita ingin brand-nya lebih kuat. Masa kita kalah sama Starbucks, padahal tidak punya kebun kopi, cuma punya merek saja,” ucapnya.

Sandi juga akan meluncurkan OK Oce Kopi sehingga petani dapat membuka usaha kopi. Hal ini karena penghasil kopi Pulau Jawa terpusat di Temanggung.

“Kita ingin ada industri pengolahan. Tadi alat-alatnya sudah bagus, sudah merek pabrikan Jember, walaupun UKM, tidak menggunakan yang tradisional, ke depan kita harus terapkan teknologi terkini, ungkapnya.

Tag : kopi
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top