Indeks Manufaktur Indonesia Turun Tipis pada November 2018

Indeks manufaktur Indonesia melanjutkan penurunan pada November 2018, walaupun masih dalam level ekspansif.
Annisa Sulistyo Rini | 03 Desember 2018 17:54 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan gitar listrik di pabrik alat musik Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/3/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA--Indeks manufaktur Indonesia melanjutkan penurunan pada November 2018, walaupun masih dalam level ekspansif.

Berdasarkan Nikkei Indonesia Manufacturing PMI yang dirilis Senin (3/12/2018), pada November pada tahun ini indeks manufaktur nasional berada di angka 50,4 atau turun tipis dari bulan sebelumnya yang sebesar 50,5.

Penurunan ini terjadi sejak September ketika indeks berada di angka 50,7, turun dari bulan sebelumnya mencapai titik tertinggi selama 26 bulan yang sebesar 51,9. Data indeks di atas 50 menunjukkan peningkatan, sedangkan di bawah 50 mengindikasikan penurunan.

Perlambatan sektor manufaktur Indonesia ini didorong oleh kondisi permintaan yang tidak kuat. Di saat produksi masih meningkat, permintaan baru secara umum stagnan.

Hal tersebut dinilai sebagai bukti bahwa kenaikan harga produk pengaruh terhadap permintaan konsumen. Rantai pasokan dilaporkan semakin memanjang karena gangguan cuaca dan kekurangan bahan baku yang menghambat upaya distribusi.

Permintaan yang lemah menyebabkan perusahaan menahan aktivitas pembelian. Ketenagakerjaan juga tumbuh pada kisaran yang lebih lambat. Sementara itu, tekanan inflasi masih kuat, tetapi kepercayaan diri berbisnis terus bertahan positif.

Menanggapi hal ini, Bernard Aw, Principal Economist at IHS Markit, mengatakan sektor industri pengolahan Indonesia kehilangan momentum pertumbuhan lebih jauh pada pertengahan kuartal keempat tahun ini. Berdasarkan survei Nikkei PMI terakhir, diperkirakan kinerja pada kuartal akhir ini bakal menjadi yang paling lemah selama 2018.

“Proyeksi jangka pendek masih tidak jelas karena survei menunjukkan tanda-tanda penurunan kondisi permintaan. Arus permintaan baru secara umum stagnan, dengan penjualan ekspor masih menurun," katanya.

Pabrikan juga menahan pembelian input, yang menyebabkan penurunan inventori yang dibeli untuk pertama kalinya dalam lima bulan. Prospek jangka panjang, katanya, masih menjanjikan dengan harapan kenaikan produksi pada tahun mendatang.

“Tekanan inflasi yang kuat masih menjadi penyebab utama karena perusahaan dihadapkan pada kenaikan biaya input, sementara permintaan menurun. Penguatan dolar, kenaikan harga komoditas global, dan kekurangan pasokan terkait cuaca menyumbang pengaruh terhadap inflasi," jelas Bernard.

Tag : manufaktur
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top