Bagaimana Pertumbuhan Industri Mamin pada 2019? Begini Proyeksinya

Pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman pada tahun depan diproyeksikan tidak banyak berubah. Hal ini disebabkan pelaku usaha belum melihat program dari pemerintah untuk mendorong daya beli.
Annisa Sulistyo Rini | 03 Desember 2018 21:13 WIB
Adhi S. Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA--Pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman pada tahun depan diproyeksikan tidak banyak berubah. Hal ini disebabkan pelaku usaha belum melihat program dari pemerintah untuk mendorong daya beli.

Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan hingga kini pengusaha masih menunggu program masing-masing pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang mendukung pertumbuhan ekonomi secara jelas dan detail. Program tersebut penting bagi para pengusaha mamin untuk memproyeksikan bisnis pada 2019.

"Saya juga lihat sementara, belum ada program yang spesifik dari pemerintah. Kecuali, kalau awal tahun ada program khusus, mungkin bisa kami lihat ada pertumbuhan. Program capres-cawapres belum ada yang detail hingga sekarang, jadi tahun depan diperkirakan masih sekitar 8%--9%," katanya seusai menjadi pembicara dalam acara Pas FM Business Forum 2019, di Jakarta, Senin (3/12/2018).

Adhi juga memperkirakan pada awal tahun depan, pabrikan akan menaikkan harga jual produknya sebesar 3%--5%. Selama tahun ini, produsen telah menahan kenaikan harga dan mengorbankan margin keuntungan untuk menjaga volume penjualan.

"Faktornya kan tidak hanya pelemahan rupiah saja, tetapi juga biaya lain seperti upah tenaga kerja," katanya.

Adapun, pada akhir tahun ini, asosiasi masih meyakini pertumbuhan sektor makanan dan minuman bisa mencapai kisaran 8%--9%.

Adhi menyebutkan permintaan pada Oktober sempat menurun dan kemudian mulai membaik kembali pada November 2018. Secara umum, penjualan produk mamin olahan naik, tetapi beberapa sektor mencatatkan perlambatan, khususnya minuman ringan.

"Minuman melambat, tetapi makanan olahan untuk rumah tangga naik, seperti tepung-tepungan dan bumbu. Akhir tahun, saya tetap optimistis penjualan naik secara umum," ujarnya.

Menurut Adhi, daya beli masyarakat yang menurun terjadi di segmen menengah ke bawah. Pasalnya, produk makanan olahan yang banyak dikonsumsi segmen ini, seperti mie instan, penjualannya tidak sebaik yang diharapkan.

Padahal produk tersebut hampir menjadi makanan pokok di segmen menengah ke bawah. "Harga komoditas perkebunan dan pertambangan yang menurun juga mempengaruhi segmen menengah bawah," jelasnya.

Sementara itu, segmen menegah ke atas disebutkan tidak mengalami penurunan. Terkait dengan kenaikan harga, Adhi menyebutkan pabrikan mamin akan mengkaji ulang pada tahun depan.

Tag : industri makanan dan minuman
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top