Produksi Inalum Dibayangi Kenaikan Harga Bahan Baku

PT Inalum (persero) merealisasiikan produksi 205.000 ton allumunium ingot dari target kuartal III/2018 yang dipatok sebesar 200.000 ton.
Anitana Widya Puspa | 03 Desember 2018 23:51 WIB
Produksi aluminium ingot di PT Inalum Kuala Tanjung Kabupaten Batubara, Sumatra Utara, Selasa (2/8). - Antara/Septianda Perdana

Bisnis.com, JAKARTA— PT Inalum (persero) merealisasiikan produksi 205.000 ton allumunium ingot dari target kuartal III/2018 yang dipatok sebesar 200.000 ton.

Plt Direktur Pelaksana PT Inalum Oggy A Kosasih mengatakan hal itu tidak lepas dari kondisi permukaan air danau toba yang stabil dan membuat perusahaan berhasil mengamankan tingkat produksi.

PT Inalum, imbuh dia, juga berkomitmen untuk merealisasikan produksi 250.000 ton per tahun untuk kepentingan domestik, 30.000 ton billet, serta Foundry alloy 90.000 ton.

Dia melanjutkan kendati saat ini molten yang dihasilkan melampaui target, tetapi perusahaan masih dibayangi kenaikan harga pokok produksi (HPP). Oggy menyebut HPP alumina naik dari US$300 dolar per ton menjadi US$600 per ton.

“Tahun 2018 merupakan tahun yang menantang bagi Inalum, dengan kondisi pasar yang tidak menggembirakan karena meningkatnya harga bahan baku utama aluminium, ctc, ctp, dan terutama alumina yang paling meningkat,”ujarndikutip Senin (3/12/2018).

Selain itu, imbuh dia, juga adanya keterlambatan pengiriman karena gangguan pasokan dari pelabuhan sebelum masuk Kuala Tanjung. Selanjutnya, sambung Oggy, untuk mengantisipasi harga bahan baku yang naik, perusahaan harus mempecepat proyek hilirisasai.

Perusahaan pun telah menyiapkan belanja modal untuk sejumlah proyek tahun depan. Pertama sebut Oggy untuk menambah kapasitas produksi pabrik di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Penamabahan kapasitas dilakukan dari sebelumnya 250.000 ton per tahun menjadi 280.000 ton per tahun.

Kedua, kerjasama dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan produsen alumina terbesar kedua di dunia Aluminum Corporation of China Ltd (CHALCO) dari Tiongkok dengan produk tambang di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (SGAR).

Nilai investasi proyek Rp12 triliun ini, kata Oggy akan menggunakan 30% ekuitas dari anak usaha patungan yang dibentuk ketiganya, yakni PT Borneo Alumina Indonesia, sisanya 70% menggunakan pinjaman perbankan.

Adapun Komposisi saham dalam PT BAI adalah, 40% Inalum, sisanya masing-msing 30% untuk PT Antam dan Chalco. Dia mengaku saat ini penyelesaian pembiayaan memang belum dilakukan, akan tetapi pembangunan harus dilaksanakan pada kuartal I/2019.

Proyek ketiga adalah Ssecondary billet yanh diharapkan terlaksana pada kuartal II -- kuartal III/2019. Perusahaan akan berusaha mengolah kembali serapan billet yang telah digunakan sebelumnya. Dia memperkirakan investasi teknologi ini akan memakan nilai sekitar Rp300 miliar.

Selain itu, masih adapula pembangunan pabrik Calcined Petroleum Cokes (CPC) bekerja sama dengan Pertamina dengan kapasitas 300.000 ton. Saat ini peruaahaan sedang dalam tahap studi kelayakan. Rencananya konstruksi akan dimulai pada pertengahan atau menjelang akhir tahun.

CPC merupakan salah satu bahan baku pembuatan aluminium yang merupakan hasil pengolahan limbah karbon kilang minyak mentah. Lokasi pabrik CPC itu nantinya bakal terletak di dekat unit kilang Pertamina di Dumai, Riau

"Kenaikan bahan baku tingkatkan biaya produksi, sehingga proyek-proyek hilirisasi haru dipercepat pelaksanaanya,"tekannua.

Tag : inalum, pt inalum
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top