PR Dwi Soetjipto di Hulu Migas Menumpuk

Pengelolaan yang lebih ekspansif guna mendorong keberlanjutan produksi minyak nasional menjadi tantangan terberat di industri hulu migas.
Dewi A Zuhriyah/David Eka Issetiabudi | 04 Desember 2018 13:28 WIB
Tantangan hulu migas. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA — Pengelolaan yang lebih ekspansif guna mendorong keberlanjutan produksi minyak nasional menjadi tantangan terberat di industri hulu migas.

Penunjukkan Kepala SKK Migas menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (4/12/2018). Berikut laporannya.

Kenyataan bahwa penurunan produksi minyak nasional terus terjadi, serta berdampak pada melebarnya defisit neraca perdagangan migas nasional tidak dapat dipungkiri. Belum lagi soal belum ditemukannya lapangan migas kelas kakap, untuk memastikan cadangan migas nasional semakin panjang.

Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto yang baru dilantik oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)Ignasius Jonan, Senin (3/12/2018). Dwi menggantikan Amien Sunaryadi yang telah memasuki masa pensiun.

Dwi masuk di SKK Migas di tengah kondisi kinerja hulu migas yang masih di bawah target. Hingga 31 Oktober 2018, realisasi lifting migas nasional sebanyak 1,91 juta BOEPD atau 96% dari target APBN 2019 sebanyak 2 juta BOEPD.

SKK Migas sebelumnya memperkirakan lifting minyak tinggal 281.000 barel per hari pada 2030. Adapun, jika dihitung dengan metode Enhanced Oil Recovery (EOR), lifting mampu bertahan di kisaran 520.000 barel per hari. Padahal, konsumsi minyak nasional tiap tahunnya bertumbuh mengikuti pertumbuhan ekonomi.

Persoalan lain adalah investasi di sektor migas. SKK Migas sebelumnya, telah memproyeksi target investasi migas tahun depan dapat mencapai US$15,32 miliar atau meningkat jauh dari prognosa tahun ini senilai US$11 miliar.

Hingga akhir Oktober lalu, rea­lisasi investasi hulu migas baru tercatat sebesar US$8,7 miliar atau 61% dari total target rencana tahun ini.

Dwi mengatakan terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum diselesaikan Amien Sunaryadi. Salah satunya soal beberapa masalah seperti plan of development (POD) yang sempat tertunda.

“Dalam 3 bulan pertama ada beberapa pending matters yang kita selesaikan rencana kerja 2019,” katanya, Senin (3/12/2018).

Selain itu, dia fokus meningkatkan investasi di sektor migas. Soal cadangan, Dwi juga berencana akan mengatasi kendala-kendala kegiatan eksplorasi yang berdampak pada lambatnya peningkatan cadangan migas.

“Peningkatan cadangan ini harus dilakukan melalui kegiatan eksplorasi yang masif. Perlu banyak mengundang investor.”

Dia juga akan fokus pada proses perkembangan proyek migas besar yang sedang berjalan, salah satunya proyek lapangan Abadi Masela.

Adapun, Amien Sunaryadi menilai tantangan menjadi Kepala SKK Migas ke depan adalah mendorong pemanfaatan data subsurface untuk mempermudah eksplorasi wilayah kerja nasional. 4 Tahun terakhir, Amien memang banyak melakukan konsolidasi internal, seperti memperbaiki tata kelola SKK Migas, hingga penyusunan data subsurface.

Sementara itu, dalam sambutannya, Jonan menyebutkan sejumlah tantangan utama yang bakal dihadapi Dwi, mulai dari tata kelola di hulu migas. peningkatan cadangan eksplorasi baik pada Wilayah Kerja (WK) migas baru maupun terminasi, penyelesaian WK migas terminasi yang jatuh tempo, mengawal lelang WK Eks­plorasi dan cost recovery yang masih tersisa, hingga mendorong penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri.

Ramson Siagian, Anggota Komisi VII DPR, mengatakan pengalaman Dwi sebagai Dirut Pertamina menjadi bekal untuk mengatasi berbagai tantangan dalam mengelola hulu migas nasional.

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resouces Yusri Usman mengatakan bahwa banyak tugas pokok yang harus diemban oleh Dwi. “Peningkatan lifting migas nasional itu tugas pokoknya.”

 

Tag : skk migas, hulu migas
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top