Riset IDC: Sekitar 51% Perusahaan Berminat Adopsi Teknologi Kecerdasan Buatan

Berdasarkan riset International Data Corporation (IDC), sebanyak 51% perusahaan dalam negeri berencana mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI dalam kurun waktu 2 hingga 3 tahun mendatang.
Syaiful Millah | 05 Desember 2018 18:41 WIB
Pembaca berita stasiun televisi Xinhua Qiu Hao berdiri di samping layar yang menampilkan pembaca berita virtual Artificial Intelligence (AI) yang didasarkan pada dirinya, di sebuah booth dalam pameran World Internet Conference (WIC) di Wuzhen, Zhejiang, China, Rabu (7/11). - Qianlong.com/E.Xiaoying via Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Mayoritas perusahaan di Indonesia akan mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI) untuk mengoptimalisasi proses bisnis dalam beberapa tahun ke depan.

Berdasarkan riset International Data Corporation (IDC), sebanyak 51% perusahaan dalam negeri berencana mengadopsi teknologi AI dalam kurun waktu 2 hingga 3 tahun mendatang.

Managing Director IDC Asean, Sudev Bangah, mengatakan AI merupakan teknologi kritikal bagi para pelaku usaha di era digital, yang akan membuka jalan lebih luas di masa depan.

Artificial intellegence bisa dibilang bukan teknologi baru, tapi perkembangannya saat ini luar biasa pesat apalagi untuk para pelaku bisnis. Adopsi AI merupakan sebuah keniscayaan,” katanya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

CEO and Founder Kata.ai Irzan Raditya mengatakan penetrasi berbagai teknologi baru yang masuk ke Indonesia terbilang sangat ccepat, termasuk di dalamnya teknologi komputasi awan (cloud) dan kecerdasan buatan.

Menurutnya, beberapa industri Tanah Air yang mulai banyak mengadopsi teknologi AI adalah sektor perbankan, telekomunikasi, dan platform dagang elektronik (ecommerce).

Irzan menyampaikan penerapan teknologi ini di sektor perbankan terbilang luas, mencakup penggunaan chatbot untuk layanan konsumen, transaksi otomatis, pembuatan rekening atau kartu kredit, hingga sistem menajemen skoring.

Dia melanjutkan, untuk sektor telekomunikasi dan platform dagang-el, adopsi teknologi AI banyak digunakan untuk menganalisis data konsumen, yang hasilnya digunakan untuk menentukan strategi marketing tertarget berdasarkan personalisasi.

Selain itu, menurut Irzan, sektor lain yang berpotensi besar terkait pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan adalah sekfor kesehatan, pendidikan, retail, dan logistik.

“Bisa dibilang, semua sektor industri yang ada bisa memanfaatkan kecerdasan buatan dalam case yang tentunya berbeda-beda. Saya percaya adopsi AI oleh perusahaan tinggal menunggu waktu sedikit lagi,” katanya di Jakarta, Rabu (5/11).

IDC juga memprediksi dalam waktu 12 sampai 18 bulan ke depan, perusahaan di Indonesia akan mengadopsi beragam teknologi. Sekitar 40% perusahaan akan menggunakan teknologi robotik, pembelajaran mesin, dan AI; 32% akan menggunakan peralatan kobalorasi; dan 25% akan mengadopsi automasi digital marketing.

Tag : teknologi informasi, kecerdasan buatan (AI)
Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top