Pekerja Profesional Indonesia Tak Puas dengan Gaji, Ini Sebabnya

Gaji di Indonesia dinilai belum memuaskan oleh kelompok pekerja profesional di level menajerial ke atas.
Yustinus Andri DP | 05 Desember 2018 17:57 WIB
Ilustrasi - Bplans

Bisnis.com, JAKARTA — Gaji di Indonesia dinilai belum memuaskan oleh kelompok pekerja profesional di level menajerial ke atas.

Berdasarkan survei Robert Walters, kelompok pekerja dengan tingkat pendidikan dan keterampilan tinggi di Indonesia hanya memberikan skor 7 dari rentang nilai 1—10 terhadap upah yang mereka terima saat ini. Adapun, 69% dari kelompok pekerja tersebut berharap gajinya naik setidaknya 10% pada 2019.

Wakil Ketua Umum Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Antonius J. Supit berpendapat, fenomena tersebut disebabkan oleh terbatasnya tingkat persaingan di pasar tenaga kerja untuk kelompok pekerja terdidik.

“Jumlah pekerja terampil, berpengalaman dan berpendidikan tinggi di Indonesia ini masih terbatas sehingga wajar jika mereka cukup leluasa meminta kenaikan gaji. Masalahnya, kami para pengusaha juga ditekan dari pekerja menengah dan bawah yang juga meminta kenaikan gaji,” ujar Anton kepada Bisnis.com, Selasa (4/12/2018).

Situasi tersebut, menurutnya, sempat terjadi ketika booming perbankan di Indonesia pada akhir periode 1980-an. Kala itu, pekerja dengan spesialisasi di sektor perbankan di Tanah Air sangat terbatas, sehingga membuat para profesional dengan kemampuan perbankan meminta upah yang sangat tinggi untuk direkrut.

Untuk itu, dia berharap keterbukaan pasar tenaga kerja dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dapat segera diimplementasikan dengan baik. Pasalnya, keterbukaan itu akan menciptakan persaingan pasar yang lebih baik. Di sisi lain, beban pengusaha juga tidak akan terlalu tinggi untuk menggaji para pekerjanya.

“Para pekerja di kelompok tersebut di Indonesia pun tidak lagi menjadi sekadar jago kandang, karena seolah-olah dilindungi dari persaingan dengan pekerja dari negara lain,” lanjutnya.

Country Manager Robert Walters untuk Indonesia Eric Mary belum lama ini mengatakan, tingkat kepuasan atas upah dari kelompok pekerja akan berpengaruh pada tingginya perpindahan pekerja di level tersebut. Menurutnya, para pekerja cenderung akan membandingkan kemampuan dan keinginan yang  mereka miliki dengan pekerjaan yang mereka lakukan selama ini.

Berdasarkan survei perusahaan konsultan perekrutan tenaga kerja tersebut, upah tertinggi untuk pekerja level atas di perusahaan Indonesia mencapai Rp1,8 miliar pada 2018. Level gaji tertinggi tersebut setara dengan kelompok pekerja di Vietnam dan Thailand.

Untuk itu, dia menyarankan agar perusahaan Indonesia meningkatkan fasilitas yang dapat menunjang pengembangan diri dan karier jangka panjang pekerja di level atas. Langkah itu dapat menahan keinginan pekerja untuk berpindah ke tempat lain.

“Keseimbangan kehidupan kerja, dorongan yang positif dari manajemen perusahaan dan pelatihan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pekerja untuk bertahan di perusahaan dengan tingkat upah yang diterimanya saat ini,” jelasnya.

Di sisi lain, dia juga berharap pemerintah dapat membantu menarik kembali pekerja dengan pendidikan dan keterampilan tinggi yang selama tinggal di luar negeri.

Kehadiran kelompok pekerja diaspora tersebut diharapkan mampu meningkatkan persaingan pasar tenaga kerja di dalam negeri sekaligus menekan defisit kebutuhan tenaga kerja berketerampilan tinggi di Tanah Air.

“Peningkatan investasi menjadi kuncinya. Semakin banyak perusahaan besar masuk ke Indonesia, akan semakin besar pula minat para diaspora untuk kembali pulang dan bekerja di dalam negeri,” jelas Mary.

Adapun, berdasarkan riset World Economic Forum (WEF) pada 2016, pekerja dengan keterampilan dan pendidikan tinggi di Indonesia hanya mencapai 10% dari total angkatan kerja di Indonesia.

Porsi tersebut menjadi yang terendah di antara negara Asia Tenggara lainnya.

Tag : gaji
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top