Ko-In Siapkan Kemitraan dengan 5.200 warung

Dalam debut pertamanya, marketplace Toko-Indonesia optimistis dapat menjalin kerjasama dengan 5.200 unit warung di area Jabodetabek dalam kurun enam bulan.
M. Richard | 06 Desember 2018 23:08 WIB

Bisnis.com JAKARTA -- Dalam debut pertamanya, marketplace Toko-Indonesia optimistis dapat menjalin kerjasama dengan 5.200 unit warung di area Jabodetabek dalam kurun enam bulan.

CEO Toko Indonesia (Ko-in) Devi Erna Rachmawati mengatakan, Ko-In adalah marketplace pertama yang akan membantu pelaku ritel tradisonal, yakni warung.

"Dalam tahap pertama ini, kami punya taget 5.200 unit warung menjadi anggota Ko-In. Angka tersebut tidak terlalu besar karena potensinya justru bisa 35.000 unit warung," katanya usai konferensi pers Ko-In, Kamis (6/12/2018).

Devi mengatakan pelaku usaha warung sangat tertarik karena Ko-In tidak memungut biaya pendafaran ataupun biaya lisensi dalam penggunaan mereknya.

Strategi pembebasan biaya tersebut akan menjadi sangat efektif ketika pelaku warung mengetahui biaya untuk membuka waralaba sebuah ritel modern yang sangat mahal.

"Pelaku usaha warung hanya dipungut biaya Rp5 juta, dan uang tersebut digunakan sepenuhnya untuk mengisi stok barang ke warung, yakni Rp3 juta untuk stok barang awal dan Rp2 juta untuk deposito pengiriman stok barang selanjutnya," jelas Devi.

Selain itu, katanya Ko-In juga menawarkan pengiriman barang yang cepat dengan biaya yang murah. Hal tersebut juga akan memberi daya tarik tersendiri, pasalnya sebagian biaya operasional warung berasal dari biaya untuk membeli stok barang, yang terkadang jauh dari lokasi warung.

"Biaya pengiriman kami cuma tarik Rp2.500 untuk stok barang yang bernilai Rp50.000 hingga Rp300.000, dan Rp5.000 untuk stok barang bernilai diatas Rp300.000. Jadi sangat murah,," katanya.

Untuk mendukung kelancaran stok barang, Kata Devi Ko-In akan membuat 19 district center, yang saat ini baru ada satu di kota Depok.

Selain itu, Devi mengatakan pelaku warung juga akan semakin tertarik bergabung karena beberapa pemerintah daerah sudah mendukungnya dengan meminta penghentian penambahan ritel modern di kotanya.

"Itu akan memberi angin segar kepada pelaku usaha warung. Mereka akan dapat lebih mudah mengembangkan usahanya," tuturnya.

Bahkan, katanya, dalam satu bulan sosialisasi Ko-In sudah mendapat sekitar 300 unit warung yang tertarik menjadi mitra.

Adapun, COO Ko-In Tias Brian menjelaskan Ko-in merupakan perusahaan marketplace yang dikembangkan oleh PT Envy Technologies Indonesia dan PT Ritel Global Solusi. 

Ko-In ditujukan untuk dapat membantu pemilik warung mengelola lebih baik warungnya, menggunakan teknologi dan meningkatkan daya saing, terutama melawan ritel moder besar.

Dalam riset yang dilakukan Ko-In, kata Tias, omzet warung turun drastis dari Rp1 juta/ hari menjadi Rp500.000/ hari dalam kurun tiga tahun.

"Jika mereka hanya mendapat margin keuntungan 10%, maka pemilik warung cuma mendapat untung sekitar Rp1,5 juta/ bulan. Itu belum termasuk biaya operasional yang harus mereka keluarkan," jelasnya.

Dengan menjadi anggota Ko-In, katanya pelaku usaha akan lebih akan dibantu dan dibimbing.

"Kami berharap omzet mereka bisa kembali sekitar Rp1 juta/ bulan. Kalau mereka bisa aktif dan menggunakan penjualan online mereka, kami harap bisa naik hingga Rp2,5 juta per bulan," ujarnya

Tag : ecommerce
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top