Ini Alasan Biodiesel Bakal Menghemat Impor Minyak Mentah & BBM

Pemanfaatan bahan bakar nabati atau biodiesel dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) akan mengurangi impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM).
Denis Riantiza Meilanova | 06 Desember 2018 14:33 WIB
Ilustrasi biodiesel - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Pemanfaatan bahan bakar nabati atau biodiesel dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) akan mengurangi impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM).

Selama ini, Indonesia menjadi importir minyak dan BBM. Dari total kebutuhan BBM di Tanah Air sekitar 1,6 juta barel per hari (bph), produksi lokal hanya sekitar 800.000 bph sehingga impor sekitar 800.000 bph.

Pemanfaatan biodiesel dari sawit sekitar 20% dari total konsumsi Solar, yaitu program B20, otomatis memangkas impor minyak dan BBM. Apalagi, Indonesia merupakan produsen terbesar CPO di dunia.

Pemerintah menargetkan pelaksanaan perluasan kewajiban bauran Solar dan 20% biodiesel atau B20 dapat menghemat devisa negara hingga US$3 miliar pada 2019.

Pemerintah mewajibkan Solar yang dijual di pasar harus dicampur dengan bahan bakar nabati dari minyak kelapa sawit (biodiesel) sebesar 20%. Perluasan program B20 ke sektor nonsubsidi tersebut efektif berlaku mulai 1 September 2018.

Konsumsi Solar di Indonesia sekitar 32 juta kiloliter per tahun. Melalui program B20, dibutuhkan biodiesel sebanyak 6,4 juta kiloliter per tahun. Pasokan biodiesel 6,4 juta kl itu akan memangkas impor minyak mentah dan Solar sebanyak 6,4 juta kl. Pengurangan impor itu diklaim bakal menghemat devisa negara hingga US$3 miliar per tahun.

Selama ini, Solar lebih banyak diproduksi di kilang domestik. Namun, bahan bakar Solar, yaitu minyak mentah, masih diimpor.

"Diharapkan pada 2019 devisa Indonesia dapat hemat lebih dari US$3 miliar dengan penggunaan FAME [fatty acid methyl ether/bahan bakar nabati sawit] sebesar 6,2 juta ton," ujar Andi Novianto, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup, Kemenko Perekonomian, dalam peluncuran studi Koaksi Indonesia dengan tema Dinamika Rantai Pasok Hulu Hilir Industri Biodiesel di Indonesia, Rabu (5/12).

Dia mengatakan, perluasan program B20 ke sektor nonsubsidi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia.  Dia mengklaim, pelaksanaan perluasan B20 tersebut mampu mengurangi impor Solar selama 3 bulan terakhir kendati jumlahnya saat ini belum signifikan.

Menurutnya, saat ini pelaksanaan program B20 belum sepenuhnya maksimal. Kendala utamanya ada pada distribusi penyaluran bahan baku B20, yakni FAME.  Pemerintah pun berupaya melakukan penyederhanaan rantai pasok penyaluran FAME untuk mengatasi hal tersebut.

Sementara itu, Koaksi Indonesia memandang pelaksanaan kebijakan biodiesel di hilir juga harus memperhatikan penerapan kebijakan industri kelapa sawit di hulu. Kompleksitasnya terlihat dari industri biodiesel nasional yang memiliki mata rantai sangat panjang, serta lekat dengan berbagai isu pembangunan, meliputi isu sosial, ekonomi, serta lingkungan.

Azis Kurniawan, Program Manajer Koaksi Indonesia, menilai bahwa mata rantai yang panjang ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi pembuat kebijakan dalam merencanakan dan melaksanakan program biodiesel yang berkelanjutan.

Penguatan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan merupakan langkah kunci agar program ini makin kokoh dan mampu menjadi alat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mewujudkan cita-cita pembangunan yang berkelanjutan.

“Kami mengusulkan beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan pemerintah serta pemangku kepentingan untuk menjawab isu pengembangan biodiesel serta mendorong penguatan industri biodiesel sampai dengan tahun-tahun mendatang,” kata Azis.

Langkah strategis yang direkomendasikan oleh Koaksi Indonesia berdasarkan studi yang dilakukan, antara lain pengembangan kebijakan biodiesel harus dilakukan secara lebih terarah, terukur, serta mendorong integrasi yang lebih baik di antara sektor terkait. 

Lalu tidak ada kebutuhan penambahan lahan. Peningkatan produktivitas sebesar 1,4 ton per ha dari rata-rata produksi sekarang hanya 2,7 ton per ha dapat memenuhi permintaan biodiesel hingga 2025 sebesar 11,75 jt kl.

Kemudian penguatan standar keberlanjutan yang sudah ada merupakan langkah safeguarding yang paling tepat saat ini terhadap isu keberlanjutan lingkungan.

Tag : Biodiesel
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top