Akhir 2018, PrivyID Targetkan Pendanaan Seri A US$5 Juta

PrivyID, usaha rintisan yang berfokus pada tanda tangan digital menargetkan pendanaan seri A sebesar US$5 juta atau sekitar Rp72 miliar hingga akhir 2018.
Syaiful Millah | 07 Desember 2018 09:20 WIB
PrivyID, usaha rintisan yang berfokus pada tanda tangan digital. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PrivyID, usaha rintisan yang berfokus pada tanda tangan digital menargetkan pendanaan seri A sebesar US$5 juta hingga akhir 2018. 
Co-Founder PrivyID Guritno Adi Saputro mengatakan hingga saat ini pihaknya sudah mengumpulkan sekitar 60% dari pendanaan seri A yang ditargetkan. 
 
"Ada beberapa venture yang sudah investasi, sekarang sisanya 1,9 [juta dolar] lagi. Kami yakin akhir tahun ini akan terpenuhi," ujarnya di Jakarta, Kamis (6/12/2018).
 
Pria yang akrab dipanggil Adi ini menuturkan, pendanaan seri A tersebut akan digunakan untuk melakukan edukasi kepada masyarakat dan perusahaan terkait tanda tangan digital. 
 
Edukasi tersebut, menurut Adi, perlu dilakukan karena masih banyak yang belum mengerti tentang tanda tangan digital. Rencananya, langkah ini akan dilakukan dengan mengadakan berbagai kegiatan luring yang langsung melibatkan berbagai pihak.  Selain itu, dia menyampaikan bahwa dana yang terkumpul akan digunakan untuk marketing, yang akan dilakukan PrivyID baik secara daring maupun luring. 
 
"Saat ini, sudah mulai banyak muncul kompetitor juga. Harapannya, nanti pendanaan ini [seri A] bisa digunakan untuk memenangi kompetisi pasar," ujarnya.
 
Sebelumnya, PrivyID juga telah mendapatkan pendanaan dari Mandiri Capital Indonesia. Adi menerangkan, dana tersebut digunakan untuk pembangunan infrastruktur keamanan dan pangkalan data.
 
Usaha rintisan yang berdiri sejak 2016 ini, hingga sekarang telah memiliki jumlah pengguna sebesar 2,2 juta dengan persentase 90% dari komersial (B2B).
 
Adi mengklaim dalam beberapa waktu belakangan, pihaknya menerbitkan sertifikasi digital hingga 10.000 dokumen per bulan. Hal ini didorong oleh Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mewajibkan pelaku usaha teknologi finansial menggunakan tanda tangan digital dalam proses bisnis mereka. 
 
Peraturan OJK tersebut, Adi melanjutkan telah meningkatkan pendapatan PrivyID hingga 80% pada 2018 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
 
Menurutnya, beberapa bidang usaha yang dominan telah menggunakan tanda tangan digital adalah sektor telekomunikasi, perbankan, dan usaha rintisan teknologi finansial. 
 
Ekspansi Pasar

Dalam rangka memperluas jangkauan pasar, Adi mengungkapkan pihaknya tengah berdiskusi dengan beberapa pelaku usaha teknologi finansial, salah satunya Amartha. 
 
VP President Amartha, Aria Widyanto, mengatakan usaha rintisannya berfokus untuk membantu akses keuangan bagi pelaku usaha mikro di daerah terpencil. 
 
Menurutnya, teknologi yang ditawarkan PrivyID akan membantu proses bisnis yang lebih efisien dalam hal administrasi. Namun demikian, dia mengungkapkan masih ada kendala penerapan tanda tangan digital yakni koneksi intetrnet yang belum merata di wilayah pelosok yang menjadi target Amartha. 
 
"Hampir setengah konsumen kami belum terhubung ke internet, makanya saat ini sedang dalam pembicaraan dengan PrivyID untuk alternatif lain," kata Aria. 
 
Usaha rintisan Amartha sendiri, telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp690 miliar kepada 160 ribu pedagang mikro di 35 Kota/Kabupaten di Indonesia. 
 
Aria mengatakan, pada 2019 mendatang pihaknya menargetkan 200 sampai 300 ribu pedagang yang terlayani akses keuangan Amartha dan melakukan ekspansi ke luar pulau Jawa. 

Tag : teknologi, StartUp
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top