Groundbreaking Kompleks Petrokimia Lotte Chemical Indonesia

Pembangunan fasilitas petrokimia terintegrasi milik PT Lotte Chemical Indonesia dimulai dengan peletakkan batu pertama pada Jumat (7/12/2018).
Annisa Sulistyo Rini | 07 Desember 2018 12:55 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, Chairman Lotte Group Shin Dong Bin saat peletakan batu pertama fasilitas petrokimia terintegrasi milik PT Lotte Chemical Indonesia, JUmat (7/12). JIBI/BISNIS - Annisa S Rini

Bisnis.com, CILEGON - Pembangunan fasilitas petrokimia terintegrasi milik PT Lotte Chemical Indonesia dimulai dengan peletakan batu pertama pada Jumat (7/12/2018).

Seremoni ini dihadiri oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, Chairman Lotte Group Shin Dong Bin, dan beberapa pejabat lainnya.

Dalam sambutannya, Airlangga mengatakan pemerintah dan Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk mendorong industri petrokimia, sehingga seluruh persoalan yang menghambat investasi ini telah diselesaikan sebelum groundbreaking. Proses investasi ini telah dibahas selama 2 tahun dan diperkirakan rampung pada 2023.

"Investasi ini penting karena selain mengurangi defisit neraca perdagangan, juga dapat menghemat devisa. Potensi revenue dari fasilitas ini US$2,5 miliar," ujarnya Jumat (7/12/2018).

Fasilitas terintegrasi ini juga akan memperdalam struktur industri petrokimia dalam negeri serta mengurangi impor. Investasi yang ditanamkan Lotte Chemical Indonesia senilai US$3,5 miliar atau sekitar Rp53 triliun.

Pabrik dengan luas area 100 hektare ini memiliki total kapasitas produksi naphta cracker sebesae 2 juta ton per tahun. Bahan baku itu selanjutnya diolah untuk menghasilkan 1 juta ton etilen, 520.000 ton propilen, 400.000 ton polipropilen dan produk turunan lainnya yang juga bernilai tambah tinggi.

Produksi tersebut untuk memenuhi permintaan domestik maupun global. Dalam proyek pembangunan infrastukturnya, diproyeksi menyerap tenaga kerja langsung hingga 1.500 orang dan dengan tenaga kerja tidak langsung bisa mencapai 4.000 orang pada periode 2019-2023.

Berdasarkan karakteristiknya, menurut menperin, industri petrokimia dikategorikan sebagai jenis sektor manufaktur yang padat modal, padat teknologi dan lahap energi sehingga perlu mendapat perhatian khsusus dari pemerintah untuk langkah pengembangan yang berkelanjutan.

“Di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, telah ditetapkan industri kimia menjadi salah satu sektor yang mendapatkan prioritas pengembangan agar menjadi pionir dalam penerapan revolusi industri 4.0,” jelasnya.

Chairman Lotte Group Shin Dong Bin menyampaikan, pihaknya berkomitmen untuk turut membantu Indonesia agar perekonomiannya mampu melompat jauh. Untuk itu, melalui investasi ini akan menjadi sejarah dalam upaya menumbuhkan industri petrokomia yang berdaya saing global.

“Semoga proyek kami yang terintegrasi ini bisa menjadi percontohan. Selain itu, produk kami dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga mengurangi impor,” ujarnya.

Tag : pertamina, lotte
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top