Kecelakaan Lion Air: Ini Alasan Indonesia dan India Butuh Simulator Boeing 737 Max

Otoritas penerbangan di Indonesia dan India mendorong semakin banyaknya pelatihan simulator pesawat untuk para pilot Boeing 737 MAX.
Aziz Rahardyan | 07 Desember 2018 23:33 WIB
Logo perusahaan produsen pesawat terbang Boeing - Reuters/Lucy Nicholson

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas penerbangan di Indonesia dan India mendorong semakin banyaknya pelatihan simulator pesawat untuk para pilot Boeing 737 MAX.

Hal itu disampaikan menyusul kecelakaan mematikan Lion Air yang menewaskan 189 orang pada 29 Oktober 2018.

Regulator penerbangan India mengatakan pilot 737 MAX harus dilatih dengan simulator, sebab alat tersebut sanggup mereplikasi skenario yang menyebabkan kecelakaan.

Sementara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Indonesia, mengungkapkan akan segera memberlakukan persyaratan baru, dengan diwajibkannya pelatihan simulator bagi pilot 737 versi tua yang beralih ke 737 versi baru seperti Boeing 737 Max.

"Sebelumnya [hanya] ada tiga jam pelatihan berbasis komputer," ujar Direktur Jenderal Ditjen Transportasi Udara Polana Banguningsih Pramesti pada Reuters, Kamis (6/12/2018) malam.

Sebelumnya, peneliti kecelakaan memusatkan perhatian pada kemungkinan fitur baru anti-stall (fitur anti kehilangan daya angkat akibat mendongak terlampau tinggi) sebagai penyebab kecelakaan Lion Air.

Adanya umpan data dari sensor yang rusak dalam penerbangan sebelumnya, membuat pesawat berulang kali mendorong hidung pesawat Lion Air terus menukik sehingga berakhir kecelakaan.

Dalam kecelakaan Lion Air tersebut, Boeing menilai prosedur kokpit yang diterapkan pada penerbangan sebelumnya sebenarnya sudah siap untuk mengatasi masalah.

Tetapi regulator AS mengatakan Boeing harus siap memeriksa kemungkinan perbaikan perangkat lunak.

Boeing mendapat kecaman, karena tidak menjabarkan perubahan terbaru sistem otomatis anti-stall tersebut dalam buku manual versi 737 MAX.

Di sisi lain, Boeing menyatakan jenis pesawat jet terlarisnya aman. Chief Executive Officer Boeing Dennis Muilenburg mengatakan kepada pewawancara CNBC, Kamis (6/12/2018) bahwa dia "sangat yakin" dengan keselamatan 737 MAX, yang telah menemani perjalanan penumpangnya selama beberapa dekade.

"Kami tahu pesawat kami aman. Kami belum mengubah filosofi desain kami," kata Muilenburg.

Pelatihan Simulator Pesawat

Pelatihan tambahan menggunakan simulator pesawat juga menjadi fokus utama setelah adanya kecelakaan ini.

Pihak Lion Air Group diwakili Direktur Operasional Daniel Putut Kuncoro Adi mengungkapkan rencana memiliki simulator Boeing 737 Max kepada Reuters, Jumat (30/11/2018).

Maskapai Lion Air berharap akan memiliki sendiri simulator Boeing 737 MAX pada tahun depan.

CAE, perusahaan pelatihan dan pembuat simulator penerbangan menyatakan sebuah simulator dapat menghabiskan biaya antara US$6 juta atau sekitar Rp87 miliar dan US$15 juta atau sekitar Rp217 miliar, tergantung bagaimana penyesuaiannya. Selain itu, sebuah simulator bisa memakan waktu sekitar satu tahun untuk dibuat dan dikirimkan.

CAE telah menjual sekitar 30.773 simulator Boeing 737 MAX ke maskapai penerbangan di seluruh dunia. Empat di antaranya kini dalam proses pelayanan.

Sebagai perbandingan, Southwest Airlines Co menyatakan memesan satu simulator 737 MAX sebelum terjadinya kecelakaan Lion Air, sedangkan American Airlines mengungkapkan simulator 737 Max telah dipakai untuk pilotnya yang masih dalam masa pelatihan.

Bahkan, American Airlines menjadikan skenario kecelakaan Lion Air sebagai bahan diskusi pelatihan pilotnya.

"Mereka diminta mengatasi perbedaan antara Boeing 737 MAX dan seri pendahulunya, Boeing 737NG," ungkap Dennis Tajer, juru bicara Allied Pilots Association (APA) yang sekaligus pilot American Airlines kepada Reuters.

Tag : boeing, lion air
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top