Greenpeace: Jepang Lebih Baik Investasi di Sekor Energi Terbarukan

Investasi Jepang di sektor pembangkit listrik tenaga batu bara di Indoneisa dinilai tidak sejalan dengan upaya global untuk mengatasi dampak buruk perubahan iklim. Demikian laporan terbaru Greenpeace Jepang.
Anitana Widya Puspa | 08 Desember 2018 03:11 WIB
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA-- Investasi Jepang di sektor pembangkit listrik tenaga batu bara di Indoneisa dinilai tidak sejalan dengan upaya global untuk mengatasi dampak buruk perubahan iklim. Demikian laporan terbaru Greenpeace Jepang.

Meskipun baru-baru ini diterbitkan kebijakan bank-bank Jepang untuk membatasi pembiayaan industri batu bara, laporan ‘Uncertain and harmful: Japanese coal investment in Indonesia’ secara gamblang menunjukkan aliran uang ke industri tersebut belum berhenti.

Tata Mustasya, koordinator kampanye iklim dan energi Greenpeace Asia Tenggara mengatakan saat ini delapan unit pembangkit batu bara baru dengan pendanaan Jepang sedang dibangun di Indonesia. Empat  unit lainnya sedang dalam tahap perencanaan.

Beberapa institusi keuangan utama Jepang, termasuk bank-bank terbesar di negara itu antara lain- Bank MUFG, Mizuho Bank dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation - terlibat dalam pendanaan proyek-proyek tersebut.

“Jepang terkenal sebagai negara dengan ilmu pengetahuan dan sumber daya teknologi yang tinggi. Investasi mereka diterima di Indonesia, tetapi jika mereka ingin berinvestasi di sektor energi, lebih baik mereka akan membantu Indonesia untuk membangun sistem manajemen energi yang canggih, yang sejalan dengan tren iklim dan energi global. Indonesia membutuhkan investasi di bidang manajemen kebutuhan energi, efisiensi energi dan energi terbarukan, bukan batubara, ”ujarnya seperti dikutip dari keterangan resmi, Jumat (7/12/208).

Pendanaan proyek batu bara Jepang bertujuan untuk memudahkan masyarakat Indonesia mendapatkan akses listrik.

Nyatanya laporan tersebut menemukan bahwa 8 dari 12 proyek batu bara baru yang didanai Jepang berada di jaringan Jawa-Bali, dengan akses ke listrik berada pada titik tertinggi, sekitar 99%.

Daerah dengan tingkat elektrifikasi rendah tidak memiliki proyek yang sedang berjalan.

Perhatian berlebih pada jaringan Jawa-Bali telah menciptakan masalah kelebihan kapasitas. Pada November 2017, Direktur PLN mengatakan 40% listrik tidak digunakan. Karena kelebihan kapasitas dan depresiasi mata uang Indonesia, PLN berada dalam kesulitan keuangan serius, yang menyebabkan pemerintah Indonesia menunda beberapa proyek PLTU batu bara.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top